Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Ratu Gede Empu Jagat di Desa Adat Sangkaragung: Barong Bernama “Jro Gede”, Tempat Seniman Memohon Taksu  

I Putu Mardika • Sabtu, 4 Mei 2024 | 01:40 WIB

 

Pura Ratu Gede Empu Jagat yang terletak di Desa Adat Sangkaragung, Kecamatan/Kabupaten Jembrana, menjadi tempat nunas Taksu bagi para seniman
Pura Ratu Gede Empu Jagat yang terletak di Desa Adat Sangkaragung, Kecamatan/Kabupaten Jembrana, menjadi tempat nunas Taksu bagi para seniman
JEMBRANA EXPRESS-Pura Ratu Gede Empu Jagat yang terletak di Desa Adat Sangkaragung, Kecamatan/Kabupaten Jembrana, menjadi tempat nunas Taksu bagi para seniman.

Di pura ini diyakini tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam Bhatara Iswara dalam wujud Barong.

Tokoh masyarakat Sangkaragung, I Ketut Wardana menjelaskan, nama Pura Ratu Gede Empu Jagat diambil dari nama sebuah Barong yang disakralkan di pura tersebut.

Pada mulanya Barong ini merupakan tari sekeha Barong, di mana tarian Barong tersebut sebagai tarian utamanya.

Sejalan dengan perkembangan kesenian Barong, mulai tumbuh kepercayaan masyarakat bahwa Barong ini memiliki suatu kekuatan gaib. Masyarakat menyebut kekuatan ini dengan sebutan Jero Gede.

Baca Juga: Mitos Beringin Keramat di Pura Kehen Bangli: Batang pohon Patah, Pertanda ada Musibah

Bahkan diyakini dapat menghindarkan masyarakat Sangkaragung dari mara bahaya. Keinginan para pemucuk adat dan pemuka masyarakat ini mendapat dukungan dari sebagian besar Krama Desa Adat Sangkaragung.

Dukungan juga datang dari seluruh krama Banjar Adat Samblong. Ditambah lagi sebagian krama Banjar Adat Pangkung Gondang yang menyatakan diri sebagai Pekandel (Penyungsung tetap yang sifat turun temurun) dari pura ini.

“Selain sebagai tempat persembahyangan, pura ini juga diyakini sebagai tempat untuk meminta suatu permohonan positif seperti kesembuhan, keselamatan. Pura Ratu Gede Empu Jagat ini memang memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri,” katanya.

Pura Ratu Gede Empu Jagat dianggap istimewa karena sangat dipercaya sebagai media nunas taksu kesenian seperti, jegog, rindik, joged bungbung, dan kesenian lainnya.

Taksu tersebut tidak bisa didapatkan di pura-pura lain yang ada di Desa Adat Sangkaragung.

Tidaklah mengherankan, jika warga sekitar khususnya para seniman seperti joged bungbung sering miminta keselamatan dan taksu di pura tersebut. Setiap warga sekitar yang meminta taksu kesenian di pura tersebut merasa sangat nyaman dan lancar ketika menjalankan kesenian tersebut dan merasa lebih “melik”.

Tetapi jika ingin taksu tersebut berlangsung lama sebaiknya rajin untuk bersembahyang di pura tersebut.

Karena jika hanya tangkil sekali maka taksu tersebutpun tidak bisa bertahan lama dan akan mengakibatkan dampak negatif seperti yang dialami salah satu warga sekitar yang malas tangkil ke sana.

“Nah, akibatnya kesenian yang dia miliki kurang bisa dilihat orang lain dan akhirnya tidak pernah dipanggil oleh orang lain yang memiliki Upacara Manusa Yadnya seperti mengundang jegog, joged bumbung, rindik,” paparnya.

Ia menambahkan, Pura Ratu Gede Empu Jagat tergolong fungsional yang terdapat di Desa Adat Sangkaragung.

Penyungsung pura ini rata-rata memiliki profesi sebagai seorang seniman, baik seniman tabuh maupu tari.

Wardana pun menceritakan jika dibangunnya pura ini diawali dari tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan gaib dari Barong tersebut.

Mulanya Barong tersebut merupakan barong kesenian yang dimiliki Sekehe Barong Desa Adat Sangkaragung yang digunakan pentas.

Diperkirakan pada tahun 1850 pernah seluruh Desa Adat Sangkaragung terjangkit wabah penyakit Setelah meminta obat dan petunjuk Barong tersebut akhirnya seluruh masyarakat dapat terselamatkan.

Baca Juga: Pura Kehen Bangli: Diempon oleh Gebog Domas, Diyakini sudah Ada sejak Abad IX

Dari kejadian inilah masyarakat mulai sering menghaturkan upakara pada Barong tersebut. Juga dari kejadian ini Bapak I Nengah Korya dengan rela menyumbangkan tanahnya untuk membangun Pura Ratu Gede Empu Jagat.

Pada tahun 1968 mulailah pembangunan pura ini dengan swadaya masyarakat dengan segala kesederhanaannya. Pada tahun 1970 pura itu dipelaspas (Ngenteg Linggih).

Piodalan di pura ini pada Tumpek Wayang (Sabtu Kliwon wuku Wayang).

“Tradisi Nyolahang ini selalu dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat Sangkaragung, satu hari sebelum piodalan (Kalipaksa) di Pura Ratu Gede Empu Jagat,” sebutnya.

Selain itu, ada juga Tradisi Ngelawang ini dilaksanakan dengan Ngiring Barong Ratu Gede Empu Jagat.

Proses ngelawang ini dilakukan dengan mengelilingi desa. Hal ini dipercaya dapat menetralisir hal negatif desa, juga dibarengi dengan upacara pecaruan di masing-masing pekarangan rumah. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#ratu gede empu jagat #jembrana #taksu #barong #pura #Bhatara Iswara #Nyolahang