Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Langka!!Tapakan Dewata Nawa Sanga berwujud Wayang Wong di Pura Luhur Pucak Kembar

I Putu Mardika • Sabtu, 4 Mei 2024 | 18:09 WIB

 

Tapakan Nawa Sangga berwujud  Barong Blas-blasan atau Wayang Wong  di Pura Luhur Pucak Kembar yang terletak di Desa Adat Pacung, Kecamatan Baturiti, Tabanan
Tapakan Nawa Sangga berwujud Barong Blas-blasan atau Wayang Wong di Pura Luhur Pucak Kembar yang terletak di Desa Adat Pacung, Kecamatan Baturiti, Tabanan
JEMBRANA EXPRESS-Pura Luhur Pucak Kembar yang terletak di Desa Adat Pacung, Kecamatan Baturiti, Tabanan tergolong unik.

Pasalnya, tapakan umumnya berupa barong ket. Tapi di Pura ini, memiliki tapakan Nawa Sangga sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Dewata Nawa Sanga.

Jenis barong yang disungsung di Pura Luhur Pucak Kembar, Desa Adat Pacung yaitu jenis Barong Blas-blasan atau Wayang Wong.

Selain itu, busana tapakan ini juga yang menjadi salah satu ciri yang membedakan Tapakan di Pura Luhur Pucak Kembar.

Bendesa Adat Pacung, Made Kariawan memaparkan busana atau Kampuh (rambut) Tapakan Nawa Sangga di Pura Luhur Pucak Kembar terbuat dari serat-serat kayu Padma yang terdapat disekitar Desa Adat Pacung.

“Nah, untuk penggunaan serat kayu Padma inilah yang memang membedakan Tapakan di Pura Luhur Pucak Kembar dengan Tapakan-Tapakan yang ada di Desa lainnya di wilayah Bali,” paparnya.

Kariawan menyebut, pada umumnya pembuatan kampuh (rambut) pada barong lebih sering menggunakan bahan dari daun Parasok atau Rambut kuda sebagai kampuh dari tapakan itu sendiri.

Baca Juga: Air di Lesung Batu Pura Yeh Lesung tak Pernah Kering: Pemedek Ramai untuk Melukat dan Nunas Tamba

Ia menjelaskan, sembilan Tapakan Nawa Sanga yang terdapat di Pura Luhur Pucak Kembar terdiri dari tokoh pewayangan diantaranya yakni Rahwana, Sangut, Delem dengan Pajenengan berupa Gada, Pecut dan Bajra.

Sedangkan enam Wre (kera) dengan Pajenengan terbuat dari rotan yang bertalian dengan cerita Ramayana.

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa asal-usul dari pembuatan Tapakan Nawa Sangga berawal dari Krama Subak Poyan/Peneng dengan anggota 200 Kepala Keluarga berencana untuk membuat bendungan dengan membawa perbekalan.

Namun dalam proses pembuatan bendungan tersebut selalu mengalami kegagalan, maka dari itu krama subak Poyan/Peneng memutuskan untuk menghadap (tangkil) kepada I Gusti Agung Nyoman Gede di Puri Perean.

Baca Juga: Proses Membuat Barong dan Rangda yang Metaksu: Diawali Mepiuning,  Ngepel Kayu dilakukan Sasih Tertentu

Tujuannya memohon agar I Gusti Agung Nyoman Gede berkenan pergi (lunga) ke tempat pembuatan bendungan, maka akhirnya I Gusti Agung Nyoman Gede dan Krama Subak Poyan/Peneng menuju tempat pembuatan bendungan dengan perbekalan secukupnya.

Namun sebelum memulai pekerjaan membuat bendungan, I Gusti Agung Nyoman Gede pada tempat menaruh perbekalan (tetangkilan) memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi.

Tujuannya untuk berdoa agar pekerjaan pembuatan bendungan dapat berhasil dan dari doa tersebut terdengar sabda yang isinya agar Ida Bhatara Pucak Rsi, Ida Bhatara Terate Bang,

Kemudian Ida Bhatara Beratan agar dibuatkan Tapakan Nawa Sangga.

“Konon dari petunjuk beliau, jika berkeinginan pembuatan bendungan berhasil dengan baik maka harus membuat (nangiang) Tapakan Nawa Sangga yang distanakan di Pura Luhur Pucak Kembar,” paparnya.

Pujawali atau Petirtan di Pura Luhur Pucak Kembar jatuh pada Anggara Kliwon Prangbakat, yang jatuh setiap 210 hari atau enam bulan sekali.

Sedangkan Pujawali Ageng (piodalan besar) dilaksanakan setiap satu setengah tahun sekali, pada saat pujawali agengTapakan Nawa Sangga dihaturkan banten Tebasan Nawa Sangga.

Uniknya, Setiap tiga tahun sekali sebelum pujawali ageng di Pura Luhur Pucak Kembar, dilaksanakan tradisi melancaran.

“Melancaran ini terbilang unik karena Tapakan Nawa Sangga yang berstana di Pura Luhur Pucak Kembar lunga dengan sistem estafet dari satu pura ke pura lainnya selama empat puluh dua hari hingga dua bulan menuju empat Kabupaten seperti Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli,” ungkapnya (dik)

Editor : I Putu Mardika
#dewata nawa sanga #tabanan #hindu bali #Wayang wong #pura #pacung #Tapakan #Baturiti