Posisi candi ini selalu miring alias tak bisa dibuat lurus. Meskipun berulang kali dibongkar oleh tukang bangunan yang sudah senior.
Seperti diketahui, pura Negara Gambur Anglayang yang terletak di Dusun Kuta Banding, Desa/Kecamatan Kubutambahan kerap disebut sebagai Pura Pancasila, karena pelinggih yang ada di pura tersebut mencerminkan beragam etnis dan agama.
Seperti Pelinggih Ratu Bagus Sundawan yang mencerminkan Kristen, Pelinggih Ratu Agung Melayu, Pelinggih Ratu Agung Syahbandar yang mencerminkan etnis China, Pelingih Ratu Pasek.
Ada juga Pelinggih Ratu Betara Sri, Pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah yang mencerminkan AgamaIslam, Pelinggih Ratu Gede Siwa yang mencerminkan Hindu, Pelinggih Padmasana, Pelinggih Puncaking Tirtha, Pelinggih Ayu Mutering Jagad.
Salah satu dari sejumlah pelinggih tersebut adalah Pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah. Pelinggih ini mencerminkan simbol Islam.
Meski demikian, secara arsitektur, pelinggih ini tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok.
Namun, yang unik, candi bentar sebagai pintu masuk ke areal pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah posisinya miring, yakni semakin ke atas lebarnya justru semakin menyempit. Jika dilewati hanya bisa dilalui oleh satu orang saja.
Pemangku Pura Negara Gambur Anglayang, Ida Bagus Mangku Kesama tak menampik jika candi bentar Pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah tidak bisa dibuat lurus seperti candi bentar pelinggih lainnya.
Bahkan, beberapa kali candi bentar tersebut dibongkar lalu dibuat ulang.
“Tukangnya dari Banjar Ancak, Bungkulan. Sudah berusaha dibuat lurus, tetapi miring. Dibongkar lagi, dibuat lagi tapi masih miring. Sampai akhirnya nyerah,” jelasnya.
Sebagai solusi, pengempon pura Negara Gambur Anglayang akhirnya nunas bawos kepada sutri untuk mendapatkan jawaban, apa gerangan yang membuat candi bentar tersebut tidak bisa dibuat tegak lurus.
“Ternyata memang beliau secara niskala tidak menghendaki candi bentarnya itu tegak lurus. Harus miring. Dari pawisik sutri itu agar dibiarkan saja miring, biar ada pembeda dibandingkan pelinggih lainnya,” kenangnya.
Dijelaskan Mangku Kesama, di areal pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah pantang mempersembahkan daging babi.
Baik dalam bentuk babi guling maupun beragam olahan daging babi lainnya.
Pemedek yang nangkil bisa menghaturkan daging lainnya, seperti daging ayam, itik. “Kalau daging babi tidak dihaturkan.
Tetapi di pelinggih lain bisa. Khusus di pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah tidak boleh menghaturkan daging babi,” sebutnya.
Sebagai pura yang mencerminkan moderasi dan toleransi, Pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah kerap didatangi oleh umat Muslim untuk berdoa.
Mereka sering membawa beragam jenis sesajen.
Pengunjung bahkan berasal dari seluruh Nusantara. Konon Sebagian besar dari mereka datang karena pawisik.
Saat berdoa, tidak jarang juga mereka melakukan seperti sikap sembahyang pada umumnya.
“Kalau saudara kita yang muslim nangkil, tidak ada kewajiban untuk menggunakan pakaian adat semabahyang. Mereka cukup membawa senteng atau selendang sebagai pertanda untuk memasuki pura. Kalau sesajen dibebaskan. Apa saja boleh,” kata Mangku Kesama.
Tokoh nasional juga sering mendatangi Pura Negara Gambur Anglayang. Belakangan ini saat pandemic Covid-19.
Politisi Rieke Diah Pitaloka atau yang merupakan pemeran Oneng dalam Drama Komedi Bajaj Bajuri pernah datang membawa dua buah bendera merah putih untuk dipasupati.
Pasupati tersebut atas arahan Megawati Soekarno Putri. Bahkan, Presiden Ir Soekarno pernah menginjakkan kaki di Pura ini.
“Kata Bu Rieke Pitaloka, bendera merah putih dipasupati, dan dimohonkan agar pandemic Covid-19 segera berakhir. Bu Rieke juga bilang kalau Megawati mendapat petunjuk tentang keberadaan Pura Negara Gambur Anglayang dari mendiang Bung Karno, karena pura dengan spirit multikultur ini adanya di sini,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika