Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Blanjong di Sanur Kauh Prasasti Berangka Tahun 913M, Pujawali saat Soma Pahing Langkir  

I Putu Mardika • Senin, 6 Mei 2024 | 19:30 WIB

 

Pura Blanjong Sanur, Wilayah Desa Sanur Kauh, Kecamatan Denpasar Selatan
Pura Blanjong Sanur, Wilayah Desa Sanur Kauh, Kecamatan Denpasar Selatan
JEMBRANA EXPRESS-Pura Blanjong bukan sekedar pura biasa. Pura yang terletak di Desa Sanur Kauh, Kecamatan Denpasar Selatan, Bali ini masuk sebagai jajaran pura kuno yang memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi dalam perkembangan Agama Hindu di Pulau Dewata.

Pura Blanjong merupakan pura umum yang diempon oleh Desa Pakraman Renon, Cramcam dan Sukawati.

Sedangkan yang hanya menyungsung adalah kelompok masyarakat dari Desa Sanur dan Kesiman.

Piodalan di Pura Blanjong jatuh setiap 210 hari (6 bulan) sekali, tepatnya pada hari Soma Pahing Wuku Langkir.

Sebagai ciri pura yang sudah ada sejak jaman Bali Kuno, Pura Blanjong memiliki struktur dwi mandala terdiri dari jaba sisi (nista mandala) halaman terbuka dan jeroan (utama mandala).

Sesuasi dengan pola pembangunan pura kuno dari zaman Dinasti Warmadewa di Bali.

Pemangku Pura Blanjong, Mangku Made Mawa, 60 menjelaskan keberadaan Pura Blanjong tidak bisa dilepaskan dari adanya prasasti yang kemudian lebih dikenal dengan Prasasti Blanjong.

Prasasti Blanjong di Pura Blanjong Sanur, Denpasar
Prasasti Blanjong di Pura Blanjong Sanur, Denpasar

Sesuai dengan apa yang tersurat dalam Prasasti Blanjong, tempat yang sekarang menjadi lokasi Pura Blanjong ini merupakan tempat memperingati kemenangan Sri Kesari Warmadewa melawan musuh-musuhnya.

“Pada tahun 835 (913 M) bulan palguna, seorang Raja yang berkuasa di seluruh dunia, beristana di Keraton Singhadwala bergelar Sri Kesari Warmadewa yang telah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya di Gurun dan Swal” jelasnya.

Dalam Prasasti Blanjong, awalnya cikal bakal pura sudah ada. Hal ini tampak pada beberapa struktur bangunan Prasasti Blanjong.

Hal inilah yang menyebabkan pura ini menjadi tempat yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai situs cagar budaya.

Baca Juga: Peninggalan di Pura Blanjong Sanur: Prasasti Blanjong Berbahasa Pre Negari, Arca Ganesha dengan Hidung Patah

“Pura Blanjong sebagai situs cagar budaya yang di lindungi oleh UndangUndang-Undang perlindungan Nomor 11 Tahun 2010 dan ditetapkan sebagai salah satu situs cagar budaya di Bali.” ungkapnya.

Bila dilihat dari data arkeologis, keberadaan Pura Blanjong diperkirakan sudah ada sejak tahun 913 Masehi.

Data arkeologis tersebut meliputi tugu prasasti, Arca Ganesha, serta peninggalan arkeologis lainnya.

Prasasti Blanjong sebagai tugu kemenangan (jayastambha/jayacina) pada masa Bali Kuno yang diproklamirkan oleh Raja Adipatih Sri Kesari Warmadewa dengan berhasil mengalahkan musuh-musuhnya di Gurun dan di Swal.

Pura Blanjong berdasarkan atas cerita pertempuran I Renggan dan I Renggin yang membuat perahu (jung/jong) I Renggan pecah (terbelah) dan sisa pasukannya menetap di pesisir pantai yang sekarang disebut Blanjong.

Di sana mereka bekerja sebagai nelayan dengan membuat rumah pemukiman serta membangun tempat suci pemujaan yang kini menjadi Pura Blanjong.

Adanya bencana alam di pesisir Blanjong di masa lampau membuat masyarakat pergi ke wilayah pedalaman (sekarang Renon) dan menetap disana, tetapi tetap ingat dengan keberadaan tempat suci ini, dan pada tahun 1975 tempat suci ini dipugar seperti keberadaannya saat ini dan disebut Pura Blanjong.

Hal tersebut membuktikan bahwa Pura Blanjong saat ini pengemponnya bukan hanya masyarakat sekitar Blanjong saja, tetapi juga diempon oleh masyarakat Banjar Madura, dan ini menunjukan bahwa Pura Blanjong adalah Jayastambha dari kemenangan yang juga didukung oleh para pendatang Madura sebelum Majapahit.

Baca Juga: Tapakan Nawa Sangga di Pura Luhur Pucak Kembar: Punya Karakater Beragam, Terbuat dari Kayu Pule

Dalam melaksanakan upacara piodalan (Pemendakan Ida Bhatara) yang jatuh setiap 210 hari (6 bulan) sekali, tepatnya pada hari Soma Pahing Wuku Langkir memiliki cara maupun waktu yang berbeda-beda.

Pemendakan Ida Bhatara pertama dilakukan oleh kelompok masyarakat Sukawati yang khusus melaksanakan kegiatan pemujaan di Pelinggih Lantang Hidung.

Selanjutnya di lakukan oleh kelompok masyarakat Cramcam yang dipusatkan di Pelinggih Bebaturan Padma Capah/Padma Agung kemudian di lanjutkan di Tugu Prasasti Blanjong, dan terakhir dilakukan prosesi oleh kelompok masyarakat Desa Renon yang terpusat di areal Pura Blanjong. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#sanur #Pura Kuno #hindu bali #dinasti warmadewa #pura #bali #denpasar