Jero Bendesa Wongaya Gede, I Ketut Sucipta menjelaskan Khusus dalam ritual mendak toya dan kurban pakelem puncak di Pura Ulun Danu Tamblingan ini, tugas dalam mempersiapkan sesajen dibagi tiga desa pemucuk yang ada di hulu, yaitu Desa Wongaya Gede (Batukaru) mendapat tugas dan kewajiban membuat banten pangeleb/pakelem;
Kemudian Desa Jatiluwih mendapat tugas mempersiapkan banten tembuku.
Baca Juga: Pura Luhur BatukaruTabanan: Stana Dewa Mahadewa, Jadi Tempat Memohon Hujan
Sedangkan Desa Soka mendapatkan tugas ngaturang pengodalan (menyelenggarakan piodalan) di Pura Dalem Gubug Danau Tamblingan (Pura Ulun Danu Tamblingan).
Dalam Ritual Pakelem di Danau Tamblingan menggunakan sarana kurban yang dipersembahkan, yaitu kerbau sudamala (kebo ius merana), yaitu satu pasang (2 ekor) kerbau jantan-muda bertanduk emas.
Kemudian ada juga sarana pipis bolong (uang kepeng) asli, bebek hitam dan bebek putih jambul, ayam dan sesajen pelengkap lainnya.
“Begitu selanjutnya, siklus tiga tahun berikutnya ritual persembahan dan kurban (pakelem) mendak toya kembali digelar di Pucak Kedaton (Puncak Gunung Batukaru), dan demikian berikutnya tahun II di hulu DAS Mawa, dan III di Danau Tamblingan,” katanya.
Demikian seterusnya ritual mendak toya/mapag toya (mohon air hujan) dan kurban pakelem dilakukan secara sirkuler oleh komunitas subak (petani) di Kabupaten Tabanan (Subak Sabhantara).
Dalam setiap ritual mapag toya dan persembahan kurban pakelem pada purnamaning sasih kapat tersebut, selalu diawali dengan ritual persembahan sesajen dan pemujaan pada Dewa yang berstana pada palinggih utama Candi Tumpang 7 di halaman jeroan Pura Batukaru.
Ritual biasanya dipimpin oleh Jero Kubayan selaku Mangku Gede Pura Batukaru dan didampingi (disaksikan) oleh Cokorde dari Puri Agung Tabanan selaku pangerajeg dari petinggi atau staf pemerintahan daerah Kabupaten Tabanan yang terkait.
“Ritual mapag toya yang disertai dengan ritual kurban (pakelem) di kawasan Batukaru selain pemujaan pada dewa-dewa lokal-setempat, ritual masih terkait dengan pemujaan Dewa Langit/Dewa Hujan (Dewa Indra) walaupun pada awalnya mungkin nama tokoh dewa tersebut dikenal dengan nama lokal, yaitu Sang Hyang Tumuwuh,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika