Pura ini bagi umat Hindu di Bali memiliki peran penting dalam tataran pengider bhuwana. Bahkan, bagian dari pura berkonsep Dewata Nawa Sanga dan stana Dewa Sangkhara.
Berdasarkan kisah tradisional keluarga Puri Mengwi, Pura Pucak Mangu ini adalah hasil pemugaran I Gusti Agung Putu, setelah yang bersangkutan menjadi Raja Mengwi. Sejak itulah Pura Pucak Mangu mengalami perkembangan pesat.
Dijelaskan Pemangku Pura Pucak Mangu, Jero Mangku Gede tidak ada catatan tertulis tentang restorasi Pura Pucak Mangu sampai saat runtuhnya Kerajaan Mengwi pada tahun 1896.
Akan tetapi Pura Pucak Mangu ini sempat runtuh karena gempa besar pada tahun 1917. Tentu saja, gempa bumi ini memporakporandakan bangunan suci itu.
Pura Pucak Mangu ini baru direstorasi pada tahun 1934-1935. Selanjutnya, Pura Pucak Mangu ini direstorasi kembali pada tahun 1978.
Hal itu dilaksanakan karena angin ribut yang merusak beberapa bangunan di pura tersebut, sehingga perlu untuk diperbaiki
“Dulu ada penelitian dari Bagian Purbakala. Hasilnya, para ahli purbakala menduga bahwa sampai dengan abad kedelapan belas palinggih utama Pura Pucak Mangu ini adalah Lingga-Yoni,” katanya.
Baru setelah pemerintahan I Gusti Agung Nyoman Mayun, yang bergelar Cokorda Nyoman Mayun, Pura Pucak Mangu ini dilengkapi dengan beberapa buah palinggih.
Diantaranya Meru Tumpang Lima, sthana Bhaṭara Pucak Mangu, Meru Tumpang Tiga, sthana Bhaṭara Taratai Bang, Tepasana tempat Lingga, Padma Capah sebagai pangubengan, Palinggih Panca Ṛṣi, yang mempunyai lima buah ruangan.
Empat ruangan menghadap ke keempat arah mata angin, dan sebuah ruang terletak di tengah palinggih.
Pujawali di Pura Pucak Mangu dilaksanakan saat Purnama Sasih Kelima. Pujawali dilaksanakan berdasarkan perhitungan sasih. Pengempon pura juga ngayah Bersama untuk mempersiapkan berbagai sarana upacara.
"Prosesi upacara pujawali diawali dengan mecaru, pengempon biasanya naik sekitar jam 4 pagi. Yang berhak naik itu utusan desa yang juga tidak boleh dalam kondisi cuntaka. Setelah itu baru dilaksanakan odalan, dan munut Ida Bhatara sudah meraga tirta," pungkasnya.
selain itu, pemedek yang nangkil ke Pura Pucak Mangu juga berasal dari berbagai pelosok Bali. Mereka nangkil tidak hanya saat pujawali semata. Tetapi juga saat hari tertentu, seperti purnama, tilem dan hari suci lainnya.(dik)
Editor : I Putu Mardika