Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Luhur Natar Sari: Tempat Paruman Barong, Tapakan Berasal dari Lima Kabupaten

I Putu Mardika • Selasa, 7 Mei 2024 | 23:37 WIB

 

Prosesi Paruman Barong di Pura Luhur Natar Sari, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti Tabanan beberapa waktu lalu saat Tumpek Krulut
Prosesi Paruman Barong di Pura Luhur Natar Sari, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti Tabanan beberapa waktu lalu saat Tumpek Krulut
JEMBRANA EXPRESS-Ada ritual unik saat Pujawali di Pura Luhur Natar Sari di Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Puluhan tapakan barong, rangda dari berbagai kabupaten di Bali berkumpul melakukan paruman saat piodalan ageng yang jatuh pada Tumpek Krulut dan diperingati satu tahun sekali.

Mangku Gede Pura Luhur Natar Sari, I Ketut Mastrum menjelaskan Upacara piodalan di Pura Luhur Natar Sari dilaksanakan setiap enam bulan sekali, pada hari Saniscara Kliwon (Tumpek) Wuku Krulut.

Berdasarkan tradisi yang berlaku bagi umat Hindu Bali pada umumnya, piodalan dilaksanakan sekali alit dan sekali ageng.

Piodalan ageng di Pura Luhur Natar Sari dilaksanakan setiap tahun sekali, diawali dengan prosesi nangiang Tapakan Ida Bhatara Sakti.

Kemudian dilanjutkan dengan ngiyasa kerthi di Pura Luhur Pucak Padang Dawa, pengunyan ke jaba kutha di tiga kabupaten yaitu Tabanan, Badung dan Gianyar selama 42 hari.

Selanjutnya prosesi melasti di Pantai Pura Luhur Batu Bolong, Desa Canggu, Kabupaten Badung, sebelum pelaksanaan piodalan ageng

Pada setiap piodalan ageng, puluhan tapakan barong berbagai jenis baik Barong ket, macan, naga, bangkal, landung dan rangda dari lima kabupaten di Bali.

Diantaranya dari Kabupaten Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli, dan Jembrana. Bahkan, kehadiran tapakan tersebut juga diiringi oleh ribuan pemedek dari seluruh Bali hadir di Pura Luhur Natar Sari.

Baca Juga: Sakit Medis dan Non Medis cobalah Nangkil ke Pura Tamba Waras: Ada Panglukatan Sapta Gangga, Banyak Tanaman Berkhasiat Obat

Hadirnya tapakan barong dan rangda dari lima kabupaten di Bali di Pura Luhur Natar Sari bertujuan untuk menyatukan kembali manifestasi Dewi Durga dan Siwa Pasupati di Pura Luhur Natar Sari.

Dewa-Dewi tersebut dipuja dalam berbagai wujud rangda, barong rentet, barong macan, barong bangkal, barong naga, barong landing di berbagai desa di lima kabupaten di Bali.

“Semuanya antusias dan ikhlas nyangre (menyambut) kerauhan (kedatangan) Ida Bhatara Sakti beserta para pengiring di lingkungan desa masing-masing. Mereka antusias ngiring Tapakan Ratu Gede masing-masing lunga (berkunjung) ke Pura Luhur Natar Sari pada saat piodalan ageng. Walaupun jarak yang ditempuh cukup jauh,” jelasnya.

Tapakan barong dan rangda tersebut ada yang nyejer satu hari pada puncak piodalan. Ada yang tiga hari, ada yang nyejer dari awal sampai akhir piodalan ageng selama 7 hari.

Tapakan barong dan rangda yang nyejer dari awal sampai akhir piodalan, umumnya tergolong tapakan barong dan rangda penguger yang memiliki peran dalam pelaksanaan ritual di Pura Luhur Natar Sari.

Beberapa peran tapakan barong dan rangda penguger, di antaranya adalah ngiring Tapakan Ida Bhatara Sakti melasti dan ngamet Tirtha Segara di Pantai Pura Luhur Batu Bolong, nyangra Tapakan Ida Bhatara Sakti di Pura Puseh Desa Adat Tua.

Ada pula mendapat tugas memendak Tapakan Ida Bhatara Sakti budal dari melasti simpang ke Pura Puseh Desa Adat Tua, nyangra Tapakan Ida Bhatara Sakti budal dari melasti di Pura Luhur Natar Sari.

Baca Juga: Pura Ratu Gede Empu Jagat di Desa Adat Sangkaragung: Barong Bernama “Jro Gede”, Tempat Seniman Memohon Taksu  

Termasuk  memendak Bhatara Tirtha ke Pura Pucak Peninjoan, ngendag kalangan sesolahan, nyineb kalangan sesolahan, dan nureksin keamanan dan kebersihan selama pelaksanaan piodalan ageng.

“Pada setiap piodalan alit, secara fisik tapakan barong dan rangda memang tidak hadir di Pura Luhur Natar Sari. Namun, para pemangku dan prejuru penyungsung tapakan barong dan rangda penguger selalu hadir untuk nunas tirtha dari Pura Luhur Natar Sari,” imbuhnya.

Dikatakan Mangku Ketut Mastrum kehadiran dan peran tapakan barong dan rangda, khususnya yang tergolong penguger di Pura Luhur Natar Sari.

Hal ini didasarkan pada cerita (mitos) yang diterima secara turun-temurun oleh para penyungsung tapakan barong dan rangda tersebut.

Para penyungsung Pura Luhur Natar Sari dan penyungsung tapakan barong dan rangda khususnya penguger, tidak berani memutus hubungan yang sudah terbangun bertahun-tahun.

Hubungan antara Pura Luhur Natar Sari dengan pura penguger, tapakan barong penguger, pemaksan atau masyarakat penyungsung dan puri, dilatarbelakangi oleh adanya cerita-cerita (mitos) dari para penglingsir (tetua) masing-masing.

Pura Khayangan Jagat Luhur Natar Sari Apuan ini menyungsung tapakan Barong Ida Bhatara Nawa Sanga.

Petapakan Pura Khayangan Jagat Natar Sari Apuan dipercaya oleh masyarakat penyungsung, untuk mengusir wabah yang muncul ditengah-tengah masyarakat.

Prosesi ini sekarang diwujudkan dengan mempersembahkan pala wija, pala bungkah, dan pala gantung. Ketika Tapakan Ida Bhatara Sakti ngunya dan budal dari melasti.

Pala wija (biji-bijian), pala bungkah (umbiumbian), dan pala gantung (buah-buahan) tersebut kemudian ditunas (dimohon) dan digunakan sebagai benih atau bibit untuk ditanam.

“Bibit ini dipercaya telah bebas dari hama tanaman. Ini memunculkan prosesi mendak Tapakan Ida Bhatara Sakti untuk ngelawang di desa-desa yang terkena musibah grubug,” sebutnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#hindu #tabanan #Desa Apuan #hindu bali #Paruman #barong #pura #Pura Luhur Natar Sari #bali #Baturiti