Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Sakit Non Medis, Coba Nangkil ke Pura Ponjok Batu untuk Melukat: Penyakit Bisa Keluar usai Meminum Tirta

Dian Suryantini • Rabu, 8 Mei 2024 | 04:24 WIB

Tempat melukat di areal tepi pantai Pura Ponjok Batu, Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng
Tempat melukat di areal tepi pantai Pura Ponjok Batu, Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng
JEMBRANA EXPRESS ­–Bagi pemedek yang hendak melukat maupun meningkatkan kualitas spiritual layak untuk nangkil ke Pura Ponjok Batu. Tempat suci ini memiliki tempat melukat yang posisinya di tepi pantai.

Tidaklah mengherankan, tempat ini selalu ramai dikunjungi umat Hindu Bali dari berbagai pelosok. Pasalnya, di pura ini merupakan jejak peninggalan Dang Hyang Nirartha dalam melakukan perjalanan spiritualnya.

Pura Ponjok Batu berlokasi di pinggir pantai Dusun Alas Sari, Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Untuk menuju ke lokasi dibutuhkan waktu kurang lebih 48 menit dari Kota Singaraja.

Tidak sulit untuk menemukan pura yang termasuk dalam Pura Kahyangan Jagat ini karena lokasinnya di pinggir jalan dekat pantai. Berdirinya pura ini berdasarkan penemuan arca bertangan empat (Catur Buja) dan Lembu Nandini.

Diperkirakan arca itu adalah patung Siwa Mahadewa, sebagaimana yang ditemukan di sejumlah peninggalan di Jawa Tengah seperti Candi Prambanan.

Dengan demikian, diduga pura ini berdiri pada awal VIII-XIII. Sebab dalam abad XIV, tidak bisa lagi dibuat Patung Siwa Mahadewa dengan Lembu Nandini seperti itu.

Berdasarkan tutur tinular atau foklore, keberadaan Pura Purwa Siddhi Ponjok Batu ini tidak lepas dari cerita keadaan pulau Bali yang masih labil.

Dan sering terjadi goyangan sehingga pulau Bali tidak stabil. Konon menurut penuturan tetua, Ida Bhatara tengah memikirkan pulau Bali agar menjadi tenang.

Ketidakseimbangan ini pun tidak terjadi hanya di areal pura saja, namun juga wilayah di sekitarnya.

Diceritakan pula bahwa Ida Bhatara tengah melakukan penimbangan tentang Pulau Bali yang tidak stabil dan tidak seimbang antara Bali Selatan dan Bali Utara.

Pada saat itu Ida Bhatara melakukan penimbangan dari Pantai Penimbangan di kawasan Desa Panji yang kini berdiri Pura Penimbangan.

Ternyata Bali Utara bagian timur lebih ringan, maka akhirnya ditambahkanlah batu-batu untuk menyeimbangkan wilayah tersebut.

Dahulu pura ini sangat kecil dengan bangunan pelinggih yang sederhana. Pura ini pun menghadap ke laut atau ke utara.

Jro Penyarikan Desa Adat Bangkah, Nyoman Renes memaparkan makna dari nama pura yakni Ponjok Batu.

Ponjok berarti tumpukan atau tanjung sedangkan batu berarti benda yang keras. Dapat diartikan Ponjok Batu berarti derah-daerah yang terdiri dari tupukan-tumpukan batu.

Atau ada pula yang mengatakan ponjok adalah tannjung yang menjorok.

“Kalau Pura Ponjok Batu berarti tempat ibadah atau sembahyang yang terdapat cocolan batu yang sangat banyak. Daerah sekitar pura memang penuh dengan batu atau berbatu-batu, baik itu batu besar maupun batu kecil,” ujarnya.

Disisi utara pura terdapat sebuah pura petirtaan tempat pemedek melakukan pelukatan atau pembersihan.

Baca Juga: Pura Tirta Mangening di Tepi Danau Tamblingan: Hanya Bebaturan, Tempat Nunas Tirta untuk Melukat

Pada tempat pelukatan tersebut terdapat tirta yang berasal dari 5 sumber mata air. Tirta itu keluar dari bawah bebatuan di pinggir pantai.

Tirta itu mengalir ke laut dan kerap digunakan sebagai tempat melukat. Seperti diungkapkan Pemangku Pura Petirtaan Ponjok Batu, Jro Parsa.

“Sebelum nangkil ke jeroan, pemedek harus melukat dulu. Ibaratnya seperti kita sehari-hari sebelum sembahyang kan mandi dulu supaya bersih. Disinilah tempatnya. Setelah itu baru ke jeroan. Nah yang dipakai untuk melukat itu adalah tirta campuhan ini. Dari 5 mata air, menyatu jadi satu mengalir ke laut, di laut kita melukat,” ungkapnya.

Selain itu ada juga sumber mata air yang berasal dari Desa Adat Bangkah sendiri, yakni tempatnya di sebelah barat petirtaan Panca Tirta.

Baca Juga: Penari Demang Temenggung di Nusa Penida Disarankan Melukat

Mata air tersebut terletak diantara batu lempeh tempat Siwa Mahadewa bersemadhi dan batu berlubang yang diyakini sebagai linggamnya. Tirta itu juga digunakan sebagai sarana pelukatan.

Sejauh ini menurut Jro Mangku Parsa banyak kejadian aneh yang terjadi di tempat pelukatan itu. Seperti misalnya, ketika ada seseorang yang tangkil untuk melukat dengan tujuan memohon obat atau nunas tamba, proses penyembuhan langsung terjadi di lokasi.

Ketika pemedek tersebut usai melukat dan meminum tirta langsung keluar penyakitnya.

“Itu langsung terlihat, bisa mereka muntah darah, bisa juga sakit kepala lalu setelahnya mulai tenang. Sakit apapun bisa disembuhkan jika memohon tamba disini berdasarkan petunjuk non medis,” ujarnya. (dhi)

Editor : I Putu Mardika
#ponjok batu #tejakula #batu #hindu #melukat #hindu bali #Non medis #buleleng #pura #bali