Jika dilihat secara seksama, Pura Dalem Segara Madhu memiliki ornament kuno yang sangat artistik.
Hal ini ditunjukkan dengan material pura berbahan paras yang sudah berusia ratusan tahun. Bangunan pura juga memiliki relief yang tidak biasa seperti pura pada umumnya.
Pengempon Pura Segara Madhu, Ketut Suradnya menjelaskan pura ini menjadi saksi bisu perang Jagaraga yang terjadi pada tahu 1848-1849. Kala itu menjadi markas para pejuang Bali yang dipimpin oleh Patih Gusti Ketut Jelantik melakukan prosesi mepasupati.
Konon, prosesi itu bertujuan untuk membangkitkan spirit perjuangan dalam rangkaian upacara masupati (memberi kekuatan gaib dan kesucian) yang dilakukan oleh Patih Jelantik bersama para pejuang di merajan agung.
“Usai dipasupati, senjata-senjata itu konon secara magis dihidupkan kembali, serta siap digunakan. Lantas, berbagai senjata dari tempat penyimpanannya, diarak menyeberang jalan di muka pura desa, melintasi puri, bergerak ke depan hingga tiba di wilayah belakang perbentengan (dekat Pura Dalem Jagaraga), seterusnya menempati posisi masing-masing memperkuat benteng Jagaraga.” Kata pria yang akrab disapa Guru Su ini.
Uniknya, dari sisi striktur, Pura Dalem Segara Madhu hanya terdiri dari dwi mandala, yakni madya mandala serta uttama mandala.
Hal ini dikarenakan kepercayaan yang paling menonjol dari nenek moyang terdahulu adalah mengenai rwa bhineda. sehingga pada untuk pembangunan tempat sucipun dibagi menjadi dua areal.
Konsep dwi mandala khususnya yang ada di Pura Dalem Segara Madhu Jagaraga ini membagi areal pura menjadi dua bagian, yakni madya mandala atau disebut juga jaba tengah serta uttama mandala atau yang disebut dengan jeroan pura.
Areal jaba tengah sendiri diperuntukkan untuk kegiatan duniawi seperti ngelawar atau menyiapkan persembahan dan makanan yang digunakan pada saat pelaksanaan upacara yajna, serta untuk tempat gong.
Sedangkan untuk di areal jeroan merupakan tempat pelaksanaan utama yajna.
“Keistimewaan struktur tanah dan areal dari Pura Dalem Segara Madhu Jagaraga ini terletak pada struktur tanah dan arealnya yang semakin ke dalam semakin turun. Hal ini berbeda dengan struktur tanah pura pada umumnya yang semakin ke dalam semakin tinggi dan naik,” katanya lagi.
Ragam hias ornament yang terdapat di Pura Dalem Segara Madhu ini sangat unik.
Pada penyengker bagian luar pura, para undagi menuangkan imajinasinya dengan membuat relief yang berbeda dari pura-pura lainnya sehingga menjadi ciri khas tersendiri bagi keberadaan Pura Dalem Segara Madhu.
Baca Juga: Kekuatan Panca Tirta di Pura Ponjok Batu: Tirta di atas Sangku berbau Harum
Guru Su menyebut, semua relief ini di ukir oleh para undagi dari Desa Jagaraga di bawah komando I Dangin, seorang ahli ukir dan penekun spiritual.
Ornament Pura Dalem Segara Madhu sangat otentik dan memiliki ciri tersendiri.
Keunikan yang dimiliki oleh arsitektur Pura Dalem Segara Madhu merupakan salah satu aset arsitektur yang ornamentik atau dengan ragam hias yang unik dan otentik serta mengandung unsur keindahan (estetika) sebagai wujud daya imajinasi para undagi yang membuatnya.
Relief orang Belanda datang dengan mobil T Ford ada benderanya dan di depannya ada orang membawa pistol.
Sedangkan di belakang ornament tersebut terdapat ukiran wayang yaitu Arjuna, Gatotkaca dan Tualen.
Relief ini terdapat pada kori agung atau paduraksa pada bagian kiri depan sehingga bisa dilihat oleh setiap orang tanpa harus memasuki madya mandala Pura Dalem Segara Madhu Jagaraga
“Relief ini mengisahkan bahwa utusan kerajaan Belanda datang dengan mengendarai mobil berbendera Belanda yang ingin mengajak Raja Buleleng dan Patih Jelantik untuk mengadakan perundingan tetapi dihentikan oleh prajurit yang membawa pistol. Karena itu merupakan sebuah jebakan dari Belanda untuk menangkap Raja Buleleng dan Patih Jelantik,” katanya.
Adapun ukiran wayang bertiga yakni Arjuna, Gatotkaca dan Tualen. Arjuna merupakan arti dari simbol yang bijaksana yang dikisahkan oleh Raja Buleleng.
Gatotkaca merupakan arti dari symbol Patih yang sangat sakti yang dikisahkan oleh Patih Jelantik dan terakhir Tualen mengandung arti simbol prajurit yang sangat setia yaitu masyarakat yang berperang hingga titik penghabisan melawan Belanda.
Relief babi hutan pada Pura Dalem Segara Madhu bermakna bahwa ketika Buleleng berhasil dikuasai oleh Belanda maka I Gusti Ketut Jelantik dengan semangat keberanianya melawan pasukan Belanda.
“Sekalipun Belanda menyadari kemenangan perang Jagaraga yang kedua tahun 1849 namun pimpinan ekpedisi Belanda mengakui kegigihan, ketangguhan, daya juang, prajurit Jagaraga dengan sekutu-sekutunya. Perang Jagaraga merupakan perang yang paling panjang pada ekspedisi Belanda di Pulau Bali,” jelas pria yang sudah ngayah puluhan tahun ini (dik)
Editor : I Putu Mardika