Relief ini menggambarkan berbagai hal termasuk relief mobil. Di depan mobil tersebut ada orang duduk sambil merokok di dalam sebuah gardu.
Sedangkan di belakang mobil tersebut terdapat relief kamasutra. Relief ini terdapat pada kori agung atau paduraksa pada bagian kanan depan.
Pengempon Pura Segara Madhu, Ketut Suradnya atau Guru Su menceritakan dalam ornament tersebut dijelaskan bahwa berulang kali Belanda mengirim utusan untuk mengajak raja dan para pepatihnya berunding tapi selalu ditolak.
Belanda mengeluarkan ultimatum agar dalam waktu 14 hari agar raja dan Patih Jelantik menyerahkan diri dengan ancaman Buleleng akan di hancurkan oleh pasukan Belanda.
Relief kamasutra bukanlah berarti porno tetapi mengandung filosofi agar mendapatkan keturunan yang suputra dan berguna bagi nusa bangsa.
Relief perahu sepeda dan kapal terbang mencerminkan Belanda yang menyerang Desa Jagaraga dari segala penjuru yaitu darat, laut serta udara.
Sedangkan relief orang naik pohon kelapa, memancing dan bermain layang-layang adalah para prajurit yang menyamar (mata-mata) untuk memantau kedatangan Belanda dan dilaporkan ke raja.
Baca Juga: Kekuatan Panca Tirta di Pura Ponjok Batu: Tirta di atas Sangku berbau Harum
Relief Kapal api, ikan besar dan buaya yang sedang memangsa manusia mencerminkan keserakahan Belanda yang menindas rakyat kecil demi kepentingannya menguasai perdagangan sampai di wilayah Sunda Kecil dan relief inilah yang menunjukkan nama Segara Madhu (gelombang kehidupan).
“Karena sebagai manusia akan sangat sulit mencari keharmonisan di tengahnya lautan, jika salah melangkah di tengah lautan, akan tenggelam dan menjadi makanan para ikan,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika