Tidak sulit menjangkau pura ini. Pasalnya terletak di Kawasan Kebun Raya Bedugul.
Pemedek yang hendak nangkil terlebih dahulu memasuki Kawasan wisata kebun raya. Selanjutnya bisa masuk ke dalam, dan menelusuri petunjuk jalan Pura Batu Meringgit.
Karena berada di areal kebun raya, tentu saja membuat pura ini sangat asri dan sejuk. Udara yang dingin kian menambah vibrasi ketenangan bagi pemedek yang nangkil untuk melakukan perjalanan spiritual.
Di pura ini juga ditemukan bangunan kelenteng Budha. Konon dibangun oleh Shri Jaya Kasunu yang merupakan keturunan Jaya Pangus.
Pendirian kelenteng Budha yang diperkirakan pada abad ke 13 ini bertujuan untuk menghormati Jaya Pangus yang menikah dengan seorang perempuan China.
Pengayah Pura Batu Meringgit, Jro Mangku Muliada menjelaskan sebelum memasuki areal pura, para pemedek diwajibkan untuk melakukan ritual melukat yang bermakna pembersihan pikiran dan jiwa secara spiritual dalam diri manusia.
Baca Juga: Pura Luhur Natar Sari: Tempat Paruman Barong, Tapakan Berasal dari Lima Kabupaten
“Batu Meringgit dimaknai terukir bentuk sastra. Sehingga diartikan sebagai tempat suci yang dapat memuja Siwa dan Budha melalui bentuk batu tersebut,” katanya.
Seperti pura pada umumnya, Pura Batu Meringgit, terbagi atas tri mandala (nista mandala, madya mandala, utama mandala).
Palinggih yang memiliki mitologis antara lain, Palinggih Konco dan Palinggih Siwa serta Buddha.
Di pura ini, terdapat mitos yang diyakini kebenarannya. Mitos palinggih multikultur di Pura Batu Meringgit merupakan bentangan cerita mistis dan magis yang melekat pada klasifikasi palinggih multikultur.
Palinggih Konco, konon dibangun oleh wargaTan, yang meyakini bahwa Bhatara Tan Lai Su Tek berstahana serta memberikan anugrah melalui pemujaan pada Konco.
Sedangkan Palinggih Siwa dan Buddha yang, konon merupakan wujud kemanunggalan sisi teologi antara masyarakat Hindu dan Buddha di Pura Batu Meringgit.
Konon palinggih Batu Meringgit di bangun oleh warga beragama Buddha. Diceritakan bahwa warga Tan mampu beradaptasi dan melakukan integrasi sosial yang apik dengan warga Hindu yang berada di Pura Batu Meringgit.
Baca Juga: Pelinggih Lingga Yoni di Pura Pucak Mangu menjadi Pelinggih utama hingga Abad XVIII
Klan sebagai warga Tan yang melekat pada warga pendiri Konco dipercayai bersumber dan diciptakan oleh Dewa.
Warga Tan mempercayai bahwa Tuhan yang bersthana dan memberikan restu pada mereka ketika bersembahyang di palinggih Konco adalah Bhatara Tan Lai Su Tek, sehingga kepercayaan terhadap Bhatara Tan Lai Su Tek selalu dijadikan sebagai fokus utama dalam aktivitas kultus yang berlangsung pada palinggih Konco.
Umat Buddha di Pura Batu Meringgit konon memiliki rasa toleransi yang tinggi. Kesadaran untuk membangun kedamian berdasarkan persatuan dalam perbedaan, selalu dipupuk dengan baik oleh warga Tan ini.
Toleransi diwujudkan dengan keterbukaan bagi warga Hindu untuk ikut serta bersembahyang pada palinggih Konco.
Diceritakan pula bahwa umat Hindu yang bersembahyang di palinggih Konco mengikuti tradisi dan sistem ritus yang berlaku pada Konco tersebut.
“Toleransi tersebut terwaris hingga saat ini. Persembahyangan yang dilakukan oleh umat Hindu dilengkapi dengan persembahyangan pada Konco dengan menerapkan sistem pemujaan Buddhis pada umumnya,” ungkapnya.
Mangku Muliada menambahkan bahwa konon palinggih Konco berfungsi sebagai tempat memohon kesejahteraan dan kesehatan.
Warga Tan sebagai pendiri palinggih Konco mempercayai bahwa Bhatara Tan Lai Su Tek menganugerahkan kesehatan dan kesejahteraan sebagai dasar dalam pembangunan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.
Cerita mitos yang menguraikan fungsi Palinggih Konco masih dipercayai hingga saat ini.
Banyak warga Tionghoa yang beragama Buddha, warga Hindu serta seluruh pamedek umum melakukan persembahyangan sembari memohon keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan di Palinggih Konco.
Kepercayaan terhadap anugerah kesehatan pada Palinggih Konco disimbolkan dengan pemberian minyak. Minyak tersebut ada yang sudah langsung tersedia pada Konco.
Disisi lain, umat juga dapat membawa minyak bersih dari rumah, yang kemudian dimohinkan restu pada Palinggih Konco
Umat Hindu dan Buddha di Pura Batu Meringgit sangat memprcayai kemenunggalan asas Siwa dan Buddha.
Ajaran Siwa maupun Buddha secara bersama dirasakan sebagai jalan suci berlandaskan kasih, sehingga terjalin sebuah integrasi pemahaman secara teologis antara umat Hindu dan Buddha di Pura Batu Meringgit.
“Palinggih Siwa dan Buddha diposisikan secara berdampingan. Palinggih Siwa berbentuk Palinggih Gegedongan. Sedangkan Palinggih Buddha diwujudkan dengan sistem bebaturan,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika