Pura ini terletak sekitar 2 kilometer dari kantor Perbekel Desa Pancasari.
Uniknya, saat air di Pura Tirta Yeh Masem diminum rasanya memang masam. Namun, jika dibawa pulang, rasa masam dipastikan akan hilang.
Jro Mangku Wayan Laba, mengatakan keberadaan parahyangan Pura Taman Beji lebih akrab disebut dengan Petirtaan Yeh Masem.
Baca Juga: Ditemukan Tahun 1916, Muara Puncak Sangkur jadi Buruan Pemedek untuk Melukat dan Berobat
Ia pun belum mengetahui secara pasti bagaimana sejarah pura tersebut, namun seingatnya pura itu sudah ada.
“Sebelum direhab, memang hanya ada satu pelinggih Dewa Ayu dan kayu beringin besar. Setelah itu direhab pada tahun 2001 kebetulan ada donator dari krama desa,” kata Jro Mangku Wayan Laba.
Ia menjelaskan pujawali di Pura Taman Beji ini dilakukan bertepatan pada Purnama Kelima. Seingatnya, pujawali di pura ini rutin dilaksanakan.
Namun, dulu juga pernah tidak dilaksanakan pujawali, karena air naik sampai ke jeroan.
Lalu kenapa disebut Tirta Yeh Masem? Mangku Wayan Laba menyebut penamaan Tirta Yeh Masem tidak lepas karena air itu jika dikecap maka rasanya masam.
Akan tetapi, apabila air tersebut dibawa pulang, maka rasa asam dipastikan hilang.
“Inilah uniknya, dan saya tidak tahu apa alasannya sata dibawa pulang rasa asamnya sudah hilang?
Pria yang sudah ngayah sejak tahun 2018 ini mengatakan pura ini memang utamanya dijadikan sebagai tempat untuk menyucikan pratima dan pralingga saat ada pujawali di Pura Kahyangan Tiga di Pancasari.
Baca Juga: Petani dan Nelayan Perlu Nangkil ke Pura Sakenan di Pulau Serangan, Ini Alasannya!!
Tidak menutup kemungkinan pula ada juga ada umat Hindu Bali yang datang untuk nangkil dari berbagai wilayah.
Seperti Denpasar, Singaraja. Konon, mereka ada yang mendapat pawisik untuk nunas penglukatan di pura ini.
“Banyak yang sudah mendapatkan manfaatnya. Kalau ada pemedek yang nangkil saya hanya ngaturang uninga saja. Katanya banyak pemedek yang mendapat petunjuk melukat di sini. Ada yang mebebawosan di sini. Dan disampaikan apa masalanya, sampai sudah sembuh seperti sedikala,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika