Setelah merabas hutan, beliau disebutkan membangun parahyangan untuk memberikan wejanganwejangan mengenai ajaran Dharma untuk menuntun perikehidupan masyarakat agar hidup rukun.
Dikatakan Tokoh Masyarakat Desa Taro, Wayan Warka, Maha Rsi Markandeya juga mengajarkan tata cara bercocok tanam dan berbagai ritual-ritual penting dalam kehidupan beragama Hindu yang masih dilestarikan sampai saat ini.
Sistem pertanian Subak yang sangat tersohor ini diyakini pertama kali diajarkan di salah satu dusun yang ada di Desa Taro yaitu Dusun Puakan.
Adapun ritual-ritual keagamaan yang masih tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat dipercayai telah ada smenjak abad ke-7 semenjak kedatangan beliau ke tanah Bali.
Ritual-ritual unik itu misalnya tegen-tegenan, negtegin, nyaciin, mebegal-begalan dan banyak lagi tradisi unik yang sangat kental seperti umat Hindu Bali pada umumnya.
Baca Juga: Rekam Jejak Maha Rsi Markandeya di Pura Gunung Raung Desa Taro
Legenda yang masih kerap dipercayai oleh masyarakat Desa Taro sampai saat ini terkait dengan Wuku Watugunung. Hal ini masih menjadi keramat, khususnya di Desa Adat Taro Kaja itu masih diyakini.
“Jadi setiap Wuku Watugunung, masyarakat ataupun tamu tidak diperbolehkan masuk ke tempat persembahyangan baik ke Pura maupun Merajan,” jelasnya.
Masyarakat hanya diperbolehkan sembahyang dari luar, bisa disebut dengan cuntaka. Hal ini masih sangat dipercayai dan dilakukan sampai saat ini.
“Karena pada zaman dulu terdapat sebuah musibah yang menimpa beberapa banjar di desa tersebut diantaranya banjar Puakna, Taro Kaja, Taro Kelod, Pakuseba dan Patas. Desa Taro ini memiliki 14 banjar, namun dari 14 banjar ini penerapan hal ini tidak sama,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika