Lingga di Pura Kancing Gumi bentuknya tidak seperti Lingga-Lingga yang ditemukan di Indonesia secara umumnya.
Lingga di Pura Kancing Gumi merupakan Lingga yang langsung menancap di permukaan bumi, Lingga merupakan simbol Purusa dan bumi (pretiwi) merupakan unsur Pradana.
Tokoh Adat Batulantang, I Made Sarpa menjelaskan bahwa awal mula ditemukannya Lingga di Pura Kancing Gumi tersebut menurut cerita secara turun temurun.
Konon, berawal dari keinginan penduduk yang berkeinginan memindahkan pemukiman warga dari posisi semula mengarah ke utara dari pemukiman yang telah ada yang lokasinya lebih tinggi, karena tempat yang dijadikan pemukiman dialiri air yang menurut masyarakat sangat cocok untuk membuka lahan persawahan.
Sehingga dari hal tersebut mulailah warga secara perlahan lahan pindah ke arah yang lebih tinggi yakni kearah utara.
Karena di sebelah utara merupakan hamparan hutan (alas) sehingga dilakukan penebangan hutan yang rencananya akan dipakai pemukiman
Hamparan hutan tersebut juga terdapat bukit-bukit sehingga penduduk melakukan perataan agar bisa didirikan sebagai pemukiman.
Baca Juga: Wajib Ikuti!!!! Ini Pantangan saat Nangkil ke Pura Lempuyang Luhur
Namun secara bersamaan ditemukan batu panjang seperti tiang yang menancap di permukaan tanah, karena tujuan awalnya adalah meratakan tanah sehingga batu itupun digali. “Begitu digali dan digoyanggoyangkan sehingga menjadikan batu itu patah,” katanya.
Patahan yang pertama diletakkan disebelah tempat penggalian. Penggalian kembali dilanjutkan oleh penduduk dan mengalami hal yang sama juga berupa patahan, hingga mencapai sebelas patahan dan tidak menemukan ujungnya akhirnya penggalian dihentikan.
Setelah dilakukan penggalian tersebut mulailah timbul berbagai macam keanehan-keanehan yang menimpa penduduk di sana.
Mulai dari timbulnya berbagai macam penyakit menyerang penduduk, wabah yang menimpa perkebunan, sawah dan ladang. Disamping itu juga timbul suara-suara yang aneh disekitar penggalian tersebut.
Hingga pada akhirnya setiap penduduk berkeinginan memindahkan dan mulai membangun pemukiman di tempat penggalian. Namun terhalang oleh berbagai macam binatang seperti secara tiba-tiba ada ulat banyak dan ular. Hal ini menyebabkan banyak penduduk mengurungkan niatnya membangun pemukiman.
Akhirnya salah satu dari penduduk tersebut kerauhan (dimasuki roh gaib), dan memberikan sabda. Bahwa ditempat tersebut tidak boleh dipakai sebagai pemukiman karena merupakan areal suci dan batu yang digali tersebut merupakan linggih (tempat berstana) Ida Bhatara Lingsir atau Hyang Siwa, dan sekaligus tempat tersebut berdasarkan sabda bernama Kancing Gumi.
“Sehingga dari kejadian tersebut masyarakat akhirnya sadar bahwa lokasi tersebut merupakan kawasan suci linggih Ida Betara Lingsir atau Hyang Siwa dan Batu Panjang tersebut merupakan tempat Beliau berstana,” ceritanya.
Berdasarkan kejadian tersebut masyarakat melakukan pemujaan untuk memohon maaf atas kejadian itu.
Mulai saat itulah kawasan tersebut di beri nama Pura Kancing Gumi. Lingga di Pura Kancing Gumi merupakan tempat yang suci linggih Ida Bhatara Lingsir atau Hyang Siwa.
Baca Juga: PENASARAN? Ini Sejarah Pura Lempuyang dan Dewa Dewi yang Berstana
Semenjak saat itu penduduk selalu melakukan pemujaan kepada kepada batu Lingga yang berada di Pura Kancing Gumi.
Lebih lanjut Sarpa mengatakan “Lingga dalam pengertian masyarakat setempat merupakan linggih (tempat berstana) yang disucikan yakni linggih Ida Bhatara Lingsir”.
Ia menjelaskan, ada sembilan patahan berada di areal Pura Kancing Gumi. Satu patahan berada di Pura Penataran tepatnya di sebelah barat Pura Kancing Gumi, satu patahan berada di Pura Dugul.
Adanya satu patahan di Pura Penataran juga mempunyai cerita tersendiri, dahulu Pemangku Pura Penataran yang kerauhan mengambil satu patahan kemudian diletakkan begitu saja di areal Pura Penataran dan sampai sekarang masih disana.
Satu patahan diletakkan di Pura Dugul yang merupakan Pura Swagina bagi penduduk yang Swadarmanya atau kegiatan kesehariannya sebagai petani
Lingga di Pura Kancing Gumi sebut I Made Sarpa merupakan batu jenis batu padas, yang keberadaannya memang diketemukan seperti itu.
Lingga di Pura Kancing Gumi berada di halaman Uttama Mandala dengan dikelilingi penyengker dengan tinggi 40 cm.
Ukurannya berdiameter 20-30 cm. Lingga di Pura Kancing Gumi tidak pernah dipindahkan dari tempat semula, sehingga tetap berjejer sesuai dengan patahannya seperti semula. Dalam ikonografi Hindu dikenal dua macam Lingga, yaitu linggacala (dapat dibawa) dan linggācala (yang tidak bergerak atau tidak dapat dipindahkan).
Disamping patahan Lingga tersebut terdapat kayu yang disebut Kayu Mer. Menurut Pemangku Pura Kancing Gumi, daun Kayu Mer tersebut digunakan sebagai bangket.
Bangket ini dibuat dari daun Kayu Mer yang sebelumnya dibakar hingga berwarna hitam kemudian dihancurkan, abu kemudian di berikan tirta atau air suci, kemudian ditempelkan pada kening.
“Ini berdasarkan petunjuk dari Ida Bhatara Lingsir atau Hyang Siwa yang melinggih di Pura Kancing Gumi sebagi pertanda telah menghaturkan atau melakukan pemujaan di Pura Kancing Gumi dan juga dipercaya sebagai simbol keselamatan,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika