Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Sering Gunakan Telor dalam Ritual Hindu? Ini Maknanya!!

I Putu Mardika • Jumat, 17 Mei 2024 | 05:31 WIB

 

penggunaan telor dalam sarana ritual Hindu di Bali
penggunaan telor dalam sarana ritual Hindu di Bali
JEMBRANA EXPRESS-Telur digunakan hampir disemua sarana bebanten di Bali. Penggunaan telur bagi umat Hindu di Bali bahkan sudah dilakukan secara turun temurun.

Telor digunakan mulai dari sarana upacara yang paling sederhana hingga rumit. Pada beragam jenis banten telur yang digunakan diolah, ditata dengan dua cara; matah (mentah), lebeng (dimasak).

Ida Bagus Made Bhaskara dari Geria Sunya Tampaksiring Gianyar menjelaskan, taluh lebeng (telur masak) diolah dengan beberapa teknik lalab (rebus), Ginoreng (goreng), Guling (ditusuk lalu dibakar), medadah (dipecahkan digoreng tanpa minyak).

Telur yang digunakan pun beragam. Mulai dari telur siap (ayam), itik (bebek), angsa. bahkan beberapa telor reptil seperti tokek dan ular kerap digunakan sarana banten terutama pada ritus Caru-caru khusus.

Banten "kacang-taluh" (irisan telor dan kacang-kacangan) mawadah ceper pada sodan alit adalah bentuk penggunaan telur paling sederhana.  Pada ritual dengan penggunaan banten tingkat paling utama, telur pun tak boleh absen.

“Misalnya pada banten sanggar tawang, sebagai uluning yandya, telur bebek wajib menyertai banten "suci tiba rwa",” jelasnya.

Lalu kenapa telur itu penting?. Ia menceritakan jika telur itu memiliki mitologi yang diulas dalam teks Widi Sastra Bhatara Nawa Dunggulan.

Baca Juga: Pantang Persembahkan daging Babi hingga Gunakan Alas Kaki saat di areal Utama Mandala Pura Kancing Gumi

Dikisahkan, ketika "jadma" (manusia) sedang sibuk mempersiapkan banten persembahan kepada para Dewata, untuk memastikan banten persembahan sesuai dengan aturan widisastra, maka Bhatara Siwa turun merubah wujud menjadi Bhagawan Dunggulan.

Singkat cerita diperiksalah semua banten tersebut lalu disimpulkan banten yang dibuat kurang sempurna. Untuk menyempurnakan banten tersebut, Bhagawan Dunggulan kemudian beryoga.

Dari yoga yang telah tasak (matang) dari tangan kanan beliau munculah teja maya (cahaya gaib), yang pelan pelan berubah menggumpal lalu menjadi "teja manik". Teja manik inilah yang oleh bhagawan disebut "Pinaka Uriping banten" roh dari persembahan.

Atas petunjuk Bhagawan Dunggulan teja manik ini diwujudkan berupa "manik urip" yang tiada lain adalah telur. Diberikan wejangan jika manusia hendak mempersembahkan banten agar memiliki urip (roh) maka wajib menggunakan telor.

Setelah menjelaskan hakekat penyempurna persembahan banten melalaui "manik urip" yang kemudian dirupakan sebagai antiga (telor), pawarah (wejangan) Bhagawan Dunggulan pun berlanjut. Dari telur ini sarana banten berupa daging bekembang.

Pada tutur inilah salah satu rujukan muasal penggunaan daging dari berbagai binatang sebagai bagian penting banten. Dari esensi manik urip ini tercipta "antiganing sawung" telur ayam.

Selain disekalakan menjadi daging sawung (ayam) pada berbagai ulam banten, maka dari telur ayam ini ditumbuhkan makin komplek mejadi segala macam daging berkaki empat.

“Melalui tutur ini harap jangan salah tafsir bahwa babi berasal dari telur ayam, itu terlalu dangkal. Sastra ini bicara tentang esensi urip pada telor ayam yang disejajarkan dengan binatang berkaki empat yang lazim dijadikan ulam banten,” paparnya.

Baca Juga: Sakral!!Ini Kisah Lingga Yoni yang tak sembarang di Pura Kancing Gumi Sulangai

Ia menambahkan, bisa jadi antiganing sawung (telur ayam) mewakili sifat rajasik (liar) dan tamasik (lembam) pada beragam jenis "patikawnang" (segala jenis binatang yang diperbolehkan untuk makanan dan persembahan) yang berciri "catur pada" berkaki empat, babi, kambing misalkan.

Pada kisah ini pun dilanjutkan manik urip, bermanifestasi menjadi telur bebek, yang nantinya berkembang menjadi jenis ulam banten yang berbeda.

Jika ditarik mengkerucut naik maka teks ini bisa jadi pelokalan ajaran tantra terutama mamsa (persembahan daging). 

“Baik ajaran tantra ataupun teks widi sastra Bhatara Nawa Dunggulan "pasu-bali "(persembahan berupa daging) adalah atas kontrol pengawasan Bhatara Siwa,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Banten #Made Bhaskara #hindu #telor #hindu bali #bali