Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Boreh Kare, Obat Untuk Luka Pasca Perang Pandan Hanya Dibuat Oleh Remaja Putri

I Wayan Adi Prabawa • Sabtu, 8 Juni 2024 | 01:24 WIB
Tamping Takon Tebenan Desa Tenganan Pegringsingan Putu Suarjana
Tamping Takon Tebenan Desa Tenganan Pegringsingan Putu Suarjana

KARANGASEM, JEMBRANA EXPRESS - Tradisi Perang Pandan yang sangat melekat di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, selalu menghadirkan antusiasme dan semangat di kalangan peserta.

Meskipun prosesi tersebut sering kali menyebabkan luka pada tubuh para remaja dan orang tua yang terlibat, tidak ada dendam yang dipendam.

Baca Juga: Hendak Beri Makan Anjing Peliharaan Sendiri, Warga Mendoyo Dangin Tukad Justru Malah Digigit Dibagian Paha

Semua dilakukan dengan suka cita, didukung oleh obat tradisional boreh kare yang disiapkan untuk mengobati luka.

Putu Suarjana, Tamping Takon Tebenan Desa Tenganan Pegringsingan, menjelaskan bahwa obat boreh kare terbuat dari kunyit, lengkuas, dan cuka.

Obat ini dibuat secara khusus oleh para pemudi desa yang dianggap masih suci.

“Karena remaja putri kan dianggap masih suci,” ujarnya.

Baca Juga: Kejari Badung Musnahkan Barang Bukti, Didominasi Dari Kasus Narkoba Bernilai Miliaran Rupiah

Suarjana menegaskan bahwa meskipun obat tersebut tidak perlu diberikan mantra khusus, khasiatnya cukup manjur untuk mengobati luka peserta Perang Pandan.

“Menurut pengalaman, tiga hari saja sudah kering. Sampai saat ini masyarakat kami yang melakukan Perang Pandan tidak pernah sampai infeksi,” jelasnya.

Penggunaan obat tradisional ini telah berlangsung sejak zaman dahulu dan tetap dipertahankan meskipun ada pengobatan modern.

Baca Juga: Tamba-Ipat  Salurkan Boga Tresna Werdha di Kecamatan Melaya, Sasarannya Lansia Dari KK Miskin

Warga setempat lebih memilih boreh kare karena efektivitasnya dalam menyembuhkan luka.

“Itu (obat modern) tidak kami pakai sepanjang obat kami bisa menyembuhkan,” tambah Suarjana.

Ia menambahkan tradisi perang pandan merupakan bentuk rasa bhakti warga Desa Tenganan Pegringsingan kepada Dewa Indra, dewa perang yang juga menjadi sungsungan krama setempat.

Baca Juga: Belum Memiliki Ijin, Pembangunan Gedung Kepentingan Umum di Desa Tegal Badeng Timur Dihentikan Sementara Satpol PP Jembrana

Tradisi ini melatih para peserta untuk bertanggung jawab dan memahami makna ritual yang sesungguhnya.

"Dalam perang ini bukan berarti berkompetisi, tetapi menjalankan tradisi sehingga tidak ada dendam yang terpendam dalam kegiatan ini," pungkas Suarjana.

Baca Juga: Bukan Hanya Dihajar Sampai Bonyok! Ternyata Paspor dan Harta Wanita Ukraina Korban Kekerasan Suami di Bali Turut Dirampas

Tradisi sakral ini tidak hanya mengukuhkan identitas budaya Desa Tenganan Pegringsingan tetapi juga mempererat tali persaudaraan di antara warga, menjadikan Perang Pandan sebagai peristiwa yang dinantikan dan dirayakan setiap tahunnya dengan penuh keikhlasan dan kebersamaan.***

Editor : I Gde Riantory Warmadewa
#remaja putri #karangasem #Tenganan Pegringsingan #perang pandan #Boreh kare