KARANGASEM, JEMBRANA EXPRESS - Tradisi Perang Pandan yang sangat melekat di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, selalu menghadirkan antusiasme dan semangat di kalangan peserta.
Meskipun prosesi tersebut sering kali menyebabkan luka pada tubuh para remaja dan orang tua yang terlibat, tidak ada dendam yang dipendam.
Semua dilakukan dengan suka cita, didukung oleh obat tradisional boreh kare yang disiapkan untuk mengobati luka.
Putu Suarjana, Tamping Takon Tebenan Desa Tenganan Pegringsingan, menjelaskan bahwa obat boreh kare terbuat dari kunyit, lengkuas, dan cuka.
Obat ini dibuat secara khusus oleh para pemudi desa yang dianggap masih suci.
“Karena remaja putri kan dianggap masih suci,” ujarnya.
Baca Juga: Kejari Badung Musnahkan Barang Bukti, Didominasi Dari Kasus Narkoba Bernilai Miliaran Rupiah
Suarjana menegaskan bahwa meskipun obat tersebut tidak perlu diberikan mantra khusus, khasiatnya cukup manjur untuk mengobati luka peserta Perang Pandan.
“Menurut pengalaman, tiga hari saja sudah kering. Sampai saat ini masyarakat kami yang melakukan Perang Pandan tidak pernah sampai infeksi,” jelasnya.
Penggunaan obat tradisional ini telah berlangsung sejak zaman dahulu dan tetap dipertahankan meskipun ada pengobatan modern.
Baca Juga: Tamba-Ipat Salurkan Boga Tresna Werdha di Kecamatan Melaya, Sasarannya Lansia Dari KK Miskin
Warga setempat lebih memilih boreh kare karena efektivitasnya dalam menyembuhkan luka.
“Itu (obat modern) tidak kami pakai sepanjang obat kami bisa menyembuhkan,” tambah Suarjana.
Ia menambahkan tradisi perang pandan merupakan bentuk rasa bhakti warga Desa Tenganan Pegringsingan kepada Dewa Indra, dewa perang yang juga menjadi sungsungan krama setempat.
Tradisi ini melatih para peserta untuk bertanggung jawab dan memahami makna ritual yang sesungguhnya.
"Dalam perang ini bukan berarti berkompetisi, tetapi menjalankan tradisi sehingga tidak ada dendam yang terpendam dalam kegiatan ini," pungkas Suarjana.
Tradisi sakral ini tidak hanya mengukuhkan identitas budaya Desa Tenganan Pegringsingan tetapi juga mempererat tali persaudaraan di antara warga, menjadikan Perang Pandan sebagai peristiwa yang dinantikan dan dirayakan setiap tahunnya dengan penuh keikhlasan dan kebersamaan.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa