Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Keunikan Pura Luhur Giri Kusuma di Desa Adat Blahkiuh, Abiansemal, Saat Upacara Gunakan Tirta Dari Wangsuh Bajra

Putu Resa Kertawedangga • Sabtu, 15 Juni 2024 | 13:26 WIB
Bendesa Adat Blahkiuh, I Gusti Agung Ketut Sudaratmaja
Bendesa Adat Blahkiuh, I Gusti Agung Ketut Sudaratmaja

JEMBRANAEXPRESS.COM - Pura Luhur Giri Kusuma yang terletak di Desa Adat Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, memiliki keistimewaan tersendiri dalam pelaksanaan upacaranya, yakni menggunakan tirta dari wangsuh bajra. Tradisi ini telah dipertahankan oleh krama Desa Adat Blahkiuh hingga saat ini.

Menurut Bendesa Adat Blahkiuh I Gusti Agung Ketut Sudaratmaja, Desa Blahkiuh memiliki sejarah yang kaya.

Dahulu, desa ini termasuk dalam kerajaan Singosari, di mana penguasa pada masa itu sangat mengagumi Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh.

Selain itu, ada seorang brahmana yang melihat sinar suci di Pura Luhur Giri Kusuma.

"Atas keyakinan itu, didirikanlah palinggih berbentuk pewedan lengkap dengan siwakrana-nya," ujar Gung Tut Sudaratmaja.

Palinggih tersebut dipercayai oleh masyarakat setempat memiliki kekuatan spiritual yang besar. Sehingga, dalam setiap upacara di Pura Luhur Giri Kusuma, penting untuk menggunakan tirta dari Bajra Pawedan Duwur.

"Tirtanya berasal dari wangsuh bajra di Pawedan Duwur," tambahnya.

Gung Tut Sudaratmaja juga menegaskan bahwa setiap Sulinggih yang Mapuja di Pura Luhur Giri Kusuma tidak boleh berkenan lebih tinggi dari Palinggih tersebut, sesuai dengan ajaran yang tercantum dalam purana.

"Ini sudah diakui oleh semua Sulinggih di Badung. Jadi dalam setiap Ngeweda, tidak ada yang berani bersikap sombong," ungkapnya.

Tirta dari wangsuh Bajra tersebut digunakan secara keseluruhan dalam upacara-upacara di Pura Luhur Giri Kusuma. Bahkan, Gung Tut Sudaratmaja mengungkapkan bahwa masukan telah diberikan kepada mereka untuk tidak lagi mengambil tirta dari tempat lain.

"Semua tirta ada di Pura Luhur Giri Kusuma. Apapun yang ditunas di situ bisa, meskipun yang nunas adalah jero mangku," jelasnya.

Lebih lanjut, Gung Tut Sudaratmaja menambahkan bahwa Pura yang termasuk dalam Khayangan Jagat ini telah ada sejak abad ke-17 pada zaman Kerajaan Singosari, meskipun cerita awalnya diperkirakan jauh sebelum abad tersebut.

"Dari purana, ada kisah masyarakat yang tersesat di Bukit Sari, diperkirakan di Alas Pala Sangeh. Mereka mendapatkan pawisik untuk kembali ke kampung dan membangun Pura," tuturnya.

Keberadaan Pura Luhur Giri Kusuma tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi warisan budaya dan spiritual yang sangat dihormati oleh masyarakat Desa Adat Blahkiuh dan sekitarnya.

Tradisi menggunakan tirta dari wangsuh bajra sebagai bagian integral dari upacara-upacara di pura ini merupakan bukti nyata dari penghargaan mereka terhadap warisan leluhur dan nilai-nilai keagamaan yang mereka junjung tinggi.***

Editor : I Gde Riantory Warmadewa
#Bendesa Adat Blahkiuh I Gusti Agung Ketut Sudaratmaja #hindu #desa adat blahkiuh #Desa Blahkiuh #Kecamatan Abiansemal #Pura Luhur Giri Kusuma #pura #Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh #bali #badung