JEMBRANAEXPRES.COM - Pura Luhur Pucak Sari di Desa Adat Bugbugan, Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan, menjadi tempat yang layak direkomendasikan bagi para penekun spiritual dan pengunjung yang mencari kedamaian.
Terletak di tengah hutan yang masih alami, pura ini menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam di tengah keindahan alam Bali.
Pelinggih utama pura ini menonjol dengan keunikan berbentuk batu berundag tinggi tujuh tingkat. Akses menuju pura dapat dilakukan dengan berbagai moda transportasi, baik roda dua maupun roda empat, melalui jalan pedesaan yang menawarkan pemandangan sawah yang hijau dan asri.
Sebelum mencapai area pura utama, pengunjung akan melewati jalanan beton yang dirabat, dikelilingi oleh vegetasi hutan yang lebat dan beberapa pohon besar berusia ratusan tahun yang diselimuti kain poleng, memberikan suasana yang tenang dan sakral.
Menurut Jro Mangku Wayan Sudiana, sebagai pemimpin spiritual (janbanggul) Pura Luhur Pucak Sari, pura ini memiliki sejarah yang kaya.
Konon, tempat ini dahulu merupakan lokasi pencerahan seorang raja setelah melihat sebuah sinar suci yang jatuh saat upacara di Pura Luhur Batukaru.
"Pada puncaknya, pura ini terbagi menjadi tiga areal, yaitu Nista, Madya, dan Utama Mandala. Bagian utama mandala mencakup berbagai pelinggih seperti Pelinggih Bebaturan, Meru Tumpang Sia (Sembilan), Pelinggih Ratu Rambut Sedana, dan lainnya," ujarnya.
Piodalan atau perayaan keagamaan di Pura Luhur Pucak Sari dilakukan secara berkala. Piodalan alit diadakan setiap enam bulan sekali, sementara piodalan agung diselenggarakan setahun sekali.
Prosesi piodalan ini melibatkan berbagai rangkaian upacara yang panjang, dimulai dari mapekeling selama 11 hari sebelum piodalan hingga melasti ke laut tiga hari sebelum puncak karya.
Dengan semua keunikan dan keindahan spiritualnya, Pura Luhur Pucak Sari menjadi destinasi yang memikat bagi pencari kedamaian dan penelusuran spiritual di Bali.
Tempat ini tidak hanya menawarkan keindahan alam yang luar biasa, tetapi juga sebuah cerminan dari warisan budaya dan spiritualitas yang kaya di Pulau Dewata.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa