JEMBRANAEXPRESS - Pura Luhur Pucak Sari di Desa Adat Bugbugan, Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan, menawarkan tidak hanya keindahan alam yang memesona, tetapi juga keunikan spiritual yang tak ternilai.
Salah satu aspek unik yang menjadi daya tarik utama adalah pelinggih bebaturan, sebuah struktur yang tidak boleh diperbaiki dengan menggunakan semen atau bahan lain yang berasal dari luar pura.
Menurut Jro Mangku Wayan Sudiana, janbanggul Pura Luhur Pucak Sari, pelinggih bebaturan ini terdiri dari tujuh tingkat yang melambangkan konsep sapta patala, sapta sunia, dan sapta loka, atau tujuh lapisan.
Keunikan lainnya, batu yang terlepas dari pelinggih ini tidak boleh diganti dengan batu lain atau tanah dari luar area pura.
“Jika ada batu lepas, harus dikembalikan seperti semula menggunakan tanah dari lokasi pura ini sebagai perekatnya. Ini karena diyakini bahwa pelinggih ini memiliki kekuatan spiritual yang sangat kuat, dan perubahan apapun bisa menimbulkan kemarahan (bendu) yang berpotensi berakibat fatal,” jelasnya.
Selain pelinggih bebaturan, pura ini juga terkenal dengan keberadaan dua buah pohon taru kembar yang akarnya berhimpitan meskipun atasnya terpisah. Ada juga taru majagau yang harum baunya, yang digunakan dalam upacara-upacara di pura ini.
Uniknya lagi, ada bambu rambat yang tumbuh di pinggir pura ini, diyakini sebagai penyengker spiritual dari pelinggih di Pura Luhur Pucak Sari. Bambu rambat ini hanya bisa tumbuh dan berkembang di dalam area pura, tidak akan tumbuh di tempat lain meskipun dicoba ditanam.
“Bambu rambat ini memiliki makna yang sangat dalam bagi pura ini. Pengempon tidak boleh membuat tembok penyengker lainnya karena sudah disengker secara sekala niskala melalui bambu merambat ini,” tambahnya.
Pura Luhur Pucak Sari juga dikenal sebagai tempat melukat bagi umat Hindu Bali, yang mengutamakan kesucian sebelum nangkil (berziarah) ke pelinggih bebaturan.
Hal ini menunjukkan betapa sakralnya pura ini dalam kehidupan spiritual masyarakat Hindu di Bali.
Dengan segala keunikan dan kekhususannya, Pura Luhur Pucak Sari tidak hanya menjadi objek wisata spiritual yang menarik, tetapi juga merupakan warisan budaya yang harus dijaga dengan baik demi keberlangsungan nilai-nilai spiritual dan kepercayaan masyarakat Bali.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa