JEMBRANAEXPRESS.com - Pura Dalem Batu Pageh, yang terletak di Desa Unggasan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, menjadi destinasi spiritual yang memikat para pemedek (penganut Hindu) untuk melakukan prosesi melukat.
Terletak di tebing yang menyerupai goa dengan pemandangan Samudra Hindia yang mempesona, pura ini menawarkan kedamaian dan kekuatan spiritual yang luar biasa.
Menurut Jro Mangku Ngara, prosesi melukat di Pura Dalem Batu Pageh dimulai dengan menyucikan diri di Air Telaga Waja yang unik.
Air suci ini berasal dari proses penggalian yang dilakukan bersama sang kakek ketika masih menjadi Janbanggul di pura tersebut.
"Air Telaga Waja ini muncul karena proses penggalian yang menghasilkan telaga yang begitu jernih dan tidak pernah kering," ujar Jro Mangku Ngara.
Prosesi melukat di Air Telaga Waja diyakini dapat membersihkan segala kekotoran spiritual dan meruwat dari sarwa mala (pengaruh negatif), sehingga sangat disarankan bagi para pemedek yang nangkil (bersembahyang) di Pura Dalem Batu Pageh.
Namun, perlu hati-hati dalam melaksanakan melukat ini karena tingkat sakralitasnya yang tinggi. "Pemedek disarankan untuk sangat berhati-hati, karena prosesi ini melibatkan spiritualitas yang dalam," tambahnya.
Selain sebagai tempat melukat, Pura Dalem Batu Pageh juga memiliki Payogan yang sangat disakralkan, di mana terdapat patung Budha tidur.
Namun, akses ke Payogan ini tidak sembarangan dan hanya dapat diakses jika ada petunjuk atau pawisik (petunjuk spiritual).
"Banyak yang memimpikan dan memberitahu bahwa batu di depan payogan adalah Hyang Budha tidur, menambah konsepnya menjadi Siwa Budha," papar Jro Mangku Ngara.
Pujawali (hari raya sakral) di Pura Dalem Batu Pageh jatuh pada Jumat Kliwon Sungsang, yang hanya berlangsung satu hari dalam setahun.
Hal ini menambah kesakralan tempat ini sebagai jejak spiritual dari perjalanan Dang Hyang Nirartha di Bali.
Acara melukat di Pura Dalem Batu Pageh tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga sebuah pengalaman mendalam bagi para pemedek yang menghargai keberadaan spiritualitas dan tradisi Hindu di Bali.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa