JEMBRANAEXPRESS.COM-Desa Adat Kembang Merta, Baturiti, Tabanan, Bali, tidak hanya terkenal dengan Pura Puncak Sangkur, tetapi juga dengan Pura Siwa Budha.
Pura yang dibangun tahun 2008 ini memiliki keunikan tersendiri, terutama karena penemuan pusaka Keris Pasupati secara mistis.
Sejarah dan Lokasi
Pura Siwa Budha terletak di Desa Adat Kembang Merta, yang dulunya merupakan area hutan yang terjaga kelestariannya.
Karena berada di kawasan hutan dan jauh dari pemukiman warga, Pura Siwa Budha menawarkan ketenangan dan keheningan yang mendalam.
Suara burung berkicau menambah suasana khusyuk bagi para pemedek yang datang untuk bersembahyang.
Keunikan dan Penemuan Mistis
Pura ini ditandai dengan patung Budha dan Dewi Kwan Im di bagian depannya. Terdapat tiga pelinggih utama: Pelinggih Padmasana, Pelinggih Siwa, dan Pelinggih Budha.
Di depan pura juga terdapat sebuah telaga dengan air yang jernih.
Pemangku Pura Siwa Budha, Jero Mangku Dharma, menjelaskan bahwa pura ini tergolong baru dan didirikan setelah penemuan pusaka keris pada bulan Juli 2008.
"Pusaka keris ini ditemukan langsung oleh warga kami. Setelah ditanyakan kepada penglingsir, itu merupakan pusaka keris Pasupati," kata Mangku Dharma.
Selain penemuan keris, warga juga menemukan patung pralingga atau Budha, yang diyakini terkait dengan Pura Puncak Sangkur.
Hal ini mendorong pendirian Pura Siwa Budha. "Kami meyakini ada hubungannya dengan Pura Puncak Sangkur. Dengan adanya pusaka dan patung Budha, maka kami dirikan Pura Siwa Budha," paparnya.
Proses Pendirian dan Pujawali
Selama purnama ketiga saat pujawali di Pura Puncak Sangkur, pusaka keris tersebut distanakan sementara di sana.
Saat proses pujawali, seorang pemedek mengalami kerauhan dan menyampaikan pesan agar pusaka tidak distanakan di Pura Puncak Sangkur.
Setelah beberapa bulan, seseorang membuatkan pelinggih lengkap untuk pusaka tersebut, dengan upacara pujawali yang bertepatan dengan Buda Kliwon Pagerwesi.
Simbolisme dan Makna
Konsep Siwa Budha yang dikenal di Bali bukanlah hal baru. Pelinggih Siwa Budha melambangkan kemanunggalan atau penyatuan, serta keseimbangan dan kedamaian.
Selain itu, ada pawisik untuk membuat kolam di depan pelinggih sebagai penangkal energi negatif, agar umat yang bersembahyang tidak membawa energi negatif.
Multikulturalisme dan Fungsi Pura
Sebagai simbol multikulturalisme, Pura Siwa Budha dikunjungi oleh pemedek dari berbagai agama, termasuk Hindu, Budha, dan Kristen. Banyak di antara mereka yang menerima pawisik untuk datang dan bersembahyang di pura ini.
"Ada yang datang dari Jawa, tidak hanya umat Hindu. Mereka datang karena mendapatkan wahyu atau pawisik," jelas Mangku Dharma.
Tempat Memohon Kesembuhan
Pura Siwa Budha juga dikenal sebagai tempat memohon tamba atau obat. Banyak pemedek yang telah membuktikan keampuhan pengobatan yang diberikan melalui abu dari pura ini.
"Ada banyak yang memohon pengobatan atau tamba. Saya sudah melihat secara langsung, karena memang banyak yang membuktikan," tutupnya.
Pura Siwa Budha tidak hanya menjadi tempat sembahyang yang khusyuk, tetapi juga simbol penyatuan budaya dan agama, serta tempat bagi umat untuk mencari ketenangan dan kesembuhan.(*)
Editor : Suharnanto Jembrana Express