Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Luhur Muncaksari Tabanan: Ada Paica Manik Galih untuk Pemedek, Sering Dipentaskan Tetangunan Sri Tumpuk

I Putu Mardika • Kamis, 18 Juli 2024 | 06:48 WIB
Pura Luhur Muncaksari di lereng Gunung Batukaru Tabanan Bali.
Pura Luhur Muncaksari di lereng Gunung Batukaru Tabanan Bali.

JEMBRANAEXPRESS.COM- Pura Luhur Muncaksari, sebuah Pura Khayangan Jagat yang terletak di Banjar Anyar, Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, berdiri megah di lereng selatan Gunung Batukaru.

 

Pura ini termasuk salah satu cagar budaya penting di Kabupaten Tabanan, memberikan pengaruh signifikan dalam kehidupan agama dan kebudayaan bagi masyarakat Pangempon, Desa Sangketan, dan umat Hindu secara umum.

 

Asal usul berdirinya Pura Luhur Muncaksari tidak tercatat secara tertulis, melainkan diketahui melalui penuturan tokoh masyarakat dan legenda yang diwariskan secara turun temurun.

Menurut cerita, pura ini ditemukan oleh leluhur Mangku Gede. Saat melakukan perjalanan, beliau menemukan tumpukan batu atau bebaturan yang menjadi cikal bakal Pura Muncaksari saat ini.

 

Mangku Gede Pura Muncaksari, I Wayan Sudarma, menjelaskan bahwa di pura ini terdapat pelinggih Bhatara Pasedahan Agung.

Ida Bhatara Pasedahan Agung diyakini memiliki kekuatan untuk memberikan perlindungan terhadap kondisi fisik alam dan lahan pertanian, kesuburan alam, serta hasil bumi yang melimpah bagi masyarakat.

 

"Petani atau Subak yang hendak memulai aktivitas pertanian, selalu memohon perlindungan dan tuntunan kehadapan Ida Bhatara Pasedahan Agung di Pura Luhur Muncaksari. Pemujaan Ida Bhatara Pasedahan Agung sering disamakan dengan pemujaan Sang Hyang Sri," paparnya.

Baca Juga: Pura Luhur Pucak Sangkur: Keindahan Spiritual di Ketinggian Bedugul Merupakan Stana Siwa Pasupati

Kelompok Subak yang hendak memulai bercocok tanam selalu memohon kepada Ida Bhatara Pasedahan Agung.

 

Permohonan ini biasanya dilakukan saat Pujawali di Pura Luhur Muncaksari, meskipun ada juga yang melakukannya secara khusus di luar pelaksanaan Pujawali.

 

Pura Luhur Muncaksari juga dikenal dengan ritual sakral Tetangunan Sri Tumpuk, sebuah tarian yang telah ada sejak lama dan menjadi bagian dari ritual di pura ini.

 

Pementasan Tetangunan Sri Tumpuk ini ditandai dengan penari yang bertumpuk di akhir sesi. Sri Tumpuk dilaksanakan setelah Pangempon menghaturkan Rsi Bojana dalam rangkaian Pujawali, biasanya pada waktu subuh antara pukul 03:00 atau 04:00 WITA.

Tanda dimulainya Sri Tumpuk adalah terjadinya kondisi trance pada satu orang yang kemudian melakukan tarian-tarian khusus.

 

Orang yang mengalami trance ini sering memanggil orang lain untuk ikut serta menari, menyebabkan banyak orang mengalami kesurupan dan mengeluarkan tarian magis.

 

Seluruh penari, baik pria maupun wanita, yang mengalami trance kemudian menari di Madya Mandala Pura Luhur Muncaksari.

Tetangunan Sri Tumpuk diiringi oleh alunan Gambelan Palegongan, dengan sarana ritual dan perangkat tertentu seperti kain kafan putih kuning dan Tikeh Plasa yang kerap dipergunakan dalam setiap Tetangunan Sri Tumpuk.

 

"Tetangunan Sri Tumpuk memiliki makna kemakmuran yang bersumber dari kesuburan alam pertanian. Kata 'Sri' memiliki arti bagus, makmur, dan sering dikaitkan dengan Dewi Sri (sakti Dewa Wisnu) yang disimbolkan dengan padi," tambahnya.

 

Pura Luhur Muncaksari tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat budaya dan spiritual yang memberikan kontribusi besar terhadap keberlangsungan tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat.(*)

 

 

Editor : Suharnanto Jembrana Express
#hindu #tabanan #pura #Pura Luhur Muncaksari