JEMBRANAEXPRESS.COM – Pura Bakung telah menjadi salah satu tempat suci yang penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Nusa Ceningan, Desa Adat Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.
Pura ini memiliki kaitan erat dengan kisah perjalanan tokoh I Renggan yang dikenal gemar bertapa dan berlayar mengarungi lautan.
Terletak di sebelah utara Pulau Nusa Ceningan, Pura Bakung berada tepat di tepi pantai yang berdekatan dengan hutan bakau.
Lokasi pura yang strategis ini juga berada di sebelah timur Jembatan Kuning yang ikonik dari Pulau Nusa Ceningan, membuatnya mudah ditemukan oleh pengunjung.
Keberadaan Pura Bakung sangat erat dengan kisah-kisah tokoh suci yang tercantum dalam Babad Nusa.
Kisah ini telah menjadi legenda yang kebenarannya diyakini oleh masyarakat setempat.
Menurut Babad Nusa, I Renggan adalah putra dari Raja Nusa, I Merja, yang distanakan di Pura Bakung.
Perannya dalam kerajaan Nusa juga terkait dengan terpecahnya Pulau Nusa Gede (Nusa Penida sekarang) menjadi Nusa Cenik (Ceningan sekarang), Nusa Lembongan, dan situs Batu Koleg. Permaisuri Ni Merahim distanakan di Pura Dalem Bungkut.
Pemangku Pura Bakung, Jro Made Sugita, menjelaskan bahwa dalam sejarah Nusa Penida, seorang pemuda bernama I Renggan gemar melakukan tapa brata yoga semadhi di Puncak Gunung Mundi, Nusa Penida.
Karena ketekunannya, Ida Dukuh Jumpungan yang telah moksa di Siwa Loka berkenan mengunjunginya.
I Renggan, cucu kesayangan Ida Dukuh Jumpungan, menerima semua kesaktian dan anugerah dari kakeknya tersebut, termasuk kemampuan membuat keris, tombak, dan senjata lainnya.
Selain bertapa, I Renggan juga gemar berlayar mengarungi lautan. Pada tahun Caka 60-an, ia diberi perahu yang tercipta dari kekuatan adnyana semedi Ida Dukuh Jumpungan.
I Renggan ingin menguji kekuatan perahunya dengan menabrak Lembongan, Nusa Penida, dan Gunung Toh Langkir.
Meskipun rencananya untuk menabrak Gunung Toh Langkir gagal karena perahunya dihancurkan oleh Ida Hyang Toh Langkir, layar perahu tersebut jatuh di tengah Pulau Nusa Cenik dan membagi pulau ini menjadi dua bagian, yaitu Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.
Akhirnya, I Renggan menetap di Bakung, Nusa Cenik, di mana ia tekun melakukan tapa brata yoga semadhi hingga mencapai moksa.
Di tempat moksa inilah berdiri Pura Bakung sebagai istana I Renggan yang bergelar Ratu Gede Panglurah.
Pura Bakung kini menjadi pusat spiritual yang penting bagi masyarakat Nusa Ceningan, dengan sejarah dan legenda yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa