JEMBRANAEXPRESS.COM-Desa Selulung Kecamatan Kintamani, Bangli, menyimpan kekayaan budaya yang unik dan sarat makna lewat Tari Baris Jojor Lutung Jenuk.
Tari Baris Jojor Lutung Jenuk bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan cermin dari filosofi dan nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat.
Akademisi sekaligus tokoh pemuda asal desa tersebut, Putu Ardiyasa, S.Sn., M.Sn., yang kini mengajar di Prodi Seni dan Kebudayaan Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, menjelaskan bahwa tarian ini merupakan salah satu bentuk tari baris yang berasal asli dari tanah kelahirannya, Desa Selulung.
Tari ini dimainkan oleh 16 penari laki-laki, masing-masing membawa karakter yang berbeda. Sebanyak 14 penari berperan sebagai 'Jojor'—yang juga memerankan sosok lutung—sementara dua lainnya berperan sebagai Ki Dukuh dan istrinya.
Menariknya, dalam pementasan, penonton juga akan disuguhkan adegan bebanyolan atau lelucon, menjadikan tarian ini tidak hanya sarat pesan, tapi juga menghibur.
“Busananya sederhana, gerakannya tidak rumit, dan iringannya menggunakan gamelan Gong Gede,” terang Ardiyasa. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan moral yang mendalam.
Kata “Jojor” dalam keseharian masyarakat Kintamani punya dua makna: jujur dan nyejer (tetap tinggal di tempat).
Nilai kejujuran ini sangat ditekankan dalam konteks pelaksanaan yadnya, baik dalam pikiran, ucapan, maupun tindakan.
Lewat tarian ini, masyarakat diajak merenungi pentingnya keseimbangan dalam menjalani ajaran dharma.
Tari Baris Jojor Lutung Jenuk kerap dipentaskan dalam rangkaian ritual keagamaan di desa. Kehadirannya menjadi magnet tersendiri bagi warga maupun pemedek yang hadir.
“Kejujuran yang tergambar dalam kata 'jojor' memiliki makna yang erat kaitannya dengan praktik yadnya yang murni dan tulus,” tambahnya.
Selain itu, kata “Lutung” berarti monyet, sedangkan “Jenuk” mengandung arti berkeliling atau berkeliaran.
Kombinasi dua kata ini melahirkan gambaran karakter penari yang lincah, nakal, namun tetap dalam bingkai budaya dan nilai luhur masyarakat Selulung.
Walau tidak diketahui secara pasti siapa pencipta tari ini, diyakini Tari Baris Jojor Lutung Jenuk sudah eksis sejak sebelum masa kedatangan Majapahit ke Bali.
Ini menunjukkan bahwa tarian tersebut telah menjadi bagian dari warisan leluhur yang terus dijaga hingga kini.
Masyarakat Selulung memandang tarian ini sebagai identitas dan simbol gotong royong. Tak hanya diajarkan secara turun-temurun kepada anak-anak, proses latihan dan pementasannya pun dilakukan bersama-sama, penuh semangat kebersamaan dan tanggung jawab sosial.
Lebih jauh, tarian ini mengandung unsur keberanian, disiplin, dan kesetiaan. Gerakannya tegas dan terkoordinasi, mencerminkan kesiapan dalam menghadapi tantangan, serta kekompakan dalam menjaga kehormatan desa.
Hubungan antara tokoh Ki Dukuh dan istrinya juga menyiratkan nilai kesetiaan dan keharmonisan rumah tangga.
Tari ini biasanya dipentaskan dalam momen puncak upacara keagamaan seperti prajapati atau pujawali, yang menjadi ajang refleksi spiritual sekaligus pelestarian budaya.
“Tari Baris Jojor Lutung Jenuk bukan hanya tentang seni pertunjukan. Di dalamnya, ada nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan kesetiaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi,” tutup Ardiyasa. (*)
Editor : Suharnanto