Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Etika membawa Banten ke Pura, Berikut Ini Penjelasan Penyuluh Agama Hindu Ayu Putri Suryaningrat

I Putu Mardika • Jumat, 11 April 2025 | 14:52 WIB
Membawa banten dengan cara suun (dijunjung) dianggap cara yang paling utama.
Membawa banten dengan cara suun (dijunjung) dianggap cara yang paling utama.

JEMBRANAEXPRESS.COM-Bagi umat Hindu, banten bukan sekadar sarana upacara, melainkan persembahan suci kepada para dewa-dewi, baik di pura maupun di sanggah atau merajan.

 

Karena itu, dalam proses membawa banten menuju tempat persembahan, ada tata cara yang wajib diperhatikan agar makna kesuciannya tetap terjaga.

 

Kesucian banten bukan hanya terletak pada bentuk fisik atau bahan-bahannya, tapi juga pada niat dan tata krama saat membuat, membawa, hingga mempersembahkannya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Klungkung, Ayu Putri Suryaningrat, dalam kanal Yudha Triguna Channel menekankan pentingnya tata titi atau etika dalam membawa banten.

 

Menurutnya, hal ini mencerminkan sikap bhakti, penghormatan, dan ketundukan kita kepada Sang Pencipta.

 

Di zaman sekarang, membawa banten mungkin terasa lebih praktis. Namun, jika menengok ke masa lalu, para leluhur kita telah mengajarkan cara-cara yang sarat makna untuk membawa persembahan.

Dalam tradisi Bali dikenal istilah suun, nyuun, dan sungsung — yakni cara membawa banten dengan meletakkannya di atas kepala. Ini bukan tanpa alasan, sebab dalam struktur tubuh, kepala adalah bagian paling suci.

 

“Saat membawa bunga, buah, atau dupa, idealnya diletakkan di atas kepala. Ini simbol penghormatan tertinggi,” ungkap Ayu Putri.

 

Tapi jika karena suatu kondisi tak memungkinkan, membawa dengan tangan pun diperbolehkan, asalkan tetap dalam posisi yang sopan dan penuh hormat.

Posisi terbaik adalah di atas bahu, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Ini menunjukkan bahwa banten ditempatkan pada posisi mulia dan tidak boleh disejajarkan dengan hal-hal profan.

 

Tubuh pun harus tegap, gerakan tidak terburu-buru, dan konsentrasi penuh selama membawa persembahan.

 

Menuju pura, langkah kaki sebaiknya ringan dan hati-hati. Ketenangan gerak adalah wujud dari ketulusan hati dalam bersembahyang.

 

Kebersihan juga penting — baik tubuh, pikiran, maupun banten itu sendiri harus bersih dan terawat. Jangan sampai banten terkena debu atau kotoran yang bisa mengurangi kesuciannya.

 

Sesampainya di pura, sikap hormat tetap dijaga. Menundukkan kepala sedikit saat menaruh banten menunjukkan kerendahan hati.

Jika membawa banyak banten, letakkan satu per satu dengan penuh kesadaran dan hati-hati agar susunan tidak rusak.

 

Menurut Ayu Putri, dalam teks suci Agastya Parwa disebutkan beberapa cara utama membawa banten: suun (di atas kepala), junjung (di kepala dengan tangan menopang), nyuun, dan tampa (dengan telapak tangan menengadah).

 

Ada juga cara madya seperti sangkil (mengepit di samping), sangkol (merangkum di depan), gandong (menggendong di punggung), sabit, dan tingting.

 

Sementara itu, cara yang dianggap nista atau kurang pantas seperti tatdad dan ered sebaiknya dihindari karena tidak mencerminkan sikap hormat dalam bersembahyang.

 

Lontar Agastya Parwa mengajarkan: “Patut maturan sane becik-becik…” — hendaknya persembahan dilakukan dengan penuh ketulusan dan niat suci.

 

Sebab siapa yang mempersembahkan dengan baik, tulus, dan penuh bhakti, kelak akan menjadi pribadi utama, berwajah rupawan, dan lahir dalam keluarga yang baik.(*)

 

 

Editor : Suharnanto
#Banten #etika #agama Hindu #pura