Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Tari Rejang Pamendak, Tarian Sakral dan Mistis Penutup Pujawali di Pura Batukaru Tabanan pada Umanis Galungan

I Putu Mardika • Kamis, 17 April 2025 | 14:25 WIB
Tari Rejang Pamendak dipentaskan pada Umanis Galungan di Pura Batukaru Tabanan.
Tari Rejang Pamendak dipentaskan pada Umanis Galungan di Pura Batukaru Tabanan.

JEMBRANAEXPRESS.COM-Di balik keheningan dan kesakralan Pura Batukarudi Desa Wongaya Gede, Penebel, Tabanan, tersimpan warisan budaya tak ternilai.

 

Salah satunya adalah Tari Rejang Pamendak, tarian sakral yang hanya dipentaskan setiap enam bulan sekali, tepat saat upacara penyineban atau penutupan rangkaian pujawali yang bertepatan dengan Umanis Galungan.

 

Puncak Piodalan di pura ini biasanya dimulai dengan upacara Munggah, yang ditandai dengan persembahan beberapa tari wali seperti Rejang Dewa, Baris Gede, dan Topeng.

Namun keistimewaan hadir saat tiga hari setelah piodalan—yakni momen penyineban—dimana Tari Rejang Pamendak ditampilkan secara khusus sebagai penghormatan terakhir dalam rangkaian ritual.

 

Menurut I Ketut Sulasa, salah satu pengempon di Pura Luhur Batukaru, Tari Rejang Pamendak tergolong sangat tua. Bahkan, asal-usul penciptanya telah hilang ditelan zaman.

“Dari cerita para tetua, tarian ini muncul dari upaya meniru gerakan orang yang sedang kerauhan,” ungkapnya.

 

Kata pamendak sendiri bermakna ‘turun’ atau ‘mamendak’ para Dewa dari tempat yoga-nya menuju pelinggih-pelinggih di pura.

 

Dalam perwujudannya, para penari membawa sebatang dupa dan menari mengelilingi setiap pelinggih dengan gerakan yang sederhana namun penuh makna.

 

Berbeda dari Rejang lainnya, Rejang Pamendak punya struktur gerak, sarana, dan prosesi yang unik. Tarian ini ditarikan oleh kelompok wanita, minimal 10 orang, yang berdiri dalam barisan tegak di jaba tengah.

Mereka bergerak secara berulang: tangan kanan memegang dupa, dilanjutkan dengan gerakan nyalud, sogok, agem, lalu menggoyangkan badan ke depan dua kali.

 

Kemudian, gerakan berpindah ke sisi kiri dengan pola yang sama.

 

Saat berada di dalam pura, para penari juga membagikan patang padi atau Manik Galih, padi sakral hasil prosesi Pembantenan Manik Galih, kepada para pamedek yang hadir.

 

Padi ini biasanya ditukar dengan sesari dalam bentuk uang seikhlasnya, sebagai simbol berkah dan kesuburan yang diberikan Dewa.

“Rejang Pamendak menjadi ungkapan syukur atas hasil panen, kesejahteraan, dan kedamaian di Wongaya Gede,” lanjut Sulasa.

 

Tarian ini diyakini punya kekuatan spiritual tinggi. Pernah suatu masa tarian ini tak dipentaskan dalam penyineban, dan yang terjadi justru bencana: sawah-sawah gagal panen.

Sejak saat itu, masyarakat makin yakin bahwa Rejang Pamendak adalah bagian penting dari keberlanjutan alam di desa mereka.

 

Secara visual, para penari tampil sederhana dan mengikuti pakem kesucian: mengenakan kebaya putih, selendang kuning, kamen kuning, serta sanggul Bali tanpa perhiasan berlebihan.

 

Musik pengiringnya adalah Gong Kebyar yang unik—berdaun sembilan, bukan sepuluh seperti biasanya.

 

Gamelan ini hanya boleh dimainkan oleh warga asli Wongaya Gede dan pengempon pura. Jika dimainkan oleh orang luar, diyakini penabuh akan jatuh sakit.

Adapun perangkat gamelannya terdiri dari Terompong (1), Juru Ugal (1), Pemade (4), Kantil (4), Penyahcah (2), Jublag (2), Jegogan (2), Reong (1), Cengceng kecil (1), Kendang lanang-wadon (2), Gong (1), dan Kempur (1).

 

Lebih dari sekadar ritual, Tari Rejang Pamendak adalah cerminan kuat hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi.

 

Ia bukan hanya persembahan, tapi juga pengingat bahwa harmoni dan keseimbangan adalah kunci keberlangsungan kehidupan.(*)

Editor : Suharnanto
#Tari Rejang Pamendak #umanis Galungan #tarian sakral #tabanan #upacara #pujawali