Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Ritual Ngilen dan Tari Baris Nanda di Desa Adat Kesiman Denpasar Timur: Berikut Ini Makna Prosesi yang Dilaksanakan saat Manis Galungan

I Putu Mardika • Jumat, 25 April 2025 | 14:39 WIB
Tari Baris Nanda merupakan bagian dari ritual keagamaan Dewa Yadnya yang dipusatkan di Pura Agung Petilan Denpasar Timur.
Tari Baris Nanda merupakan bagian dari ritual keagamaan Dewa Yadnya yang dipusatkan di Pura Agung Petilan Denpasar Timur.

JEMBRANAEXPRESS.COM-Setiap perayaan Manis Galungan pada Wraspati Umanis Wuku Dungulan, masyarakat Desa Adat Kesiman, Denpasar Timur, melaksanakan upacara suci Ngilen.

 

Di tengah kekhidmatan prosesi Ngilen ini, ditampilkan pula sebuah tarian sakral bernama Tari Baris Nanda, yang menjadi bagian dari seni tari wali.

 

Wakil Bendesa Adat Kesiman, I Gede Anom Ranuara, menjelaskan bahwa Tari Baris Nanda merupakan bagian dari ritual keagamaan Dewa Yadnya yang dipusatkan di Pura Agung Petilan.

Tarian ini ditarikan oleh kaum pria sebagai pengiring upacara, dan hanya dipentaskan khusus dalam momen sakral Ngilen.

 

Nama "Nanda" dalam tarian ini, kata Anom, berasal dari konsep Tandava, sebuah istilah yang merangkum perpaduan antara canda (mantra, irama, dan dinamika) dengan mudra (gerakan tubuh).

Kombinasi keduanya melahirkan tarian penuh makna, yang menggambarkan keharmonisan antara energi spiritual dan gerak fisik.

 

Tari Baris Nanda dipercaya telah dipentaskan sejak tahun 1937, bertepatan dengan berdirinya Pura Agung Petilan.

 

Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan properti Tanda, simbol penyatuan Lingga dan Yoni—dua unsur yang merepresentasikan keseimbangan dalam kehidupan.

 

Dalam hal ini, tedung (payung) mewakili lingga, dan menur melambangkan yoni. Penyatuan keduanya dilambangkan dengan janur, sebagai simbol kehidupan.

 

Tari Baris Nanda sendiri terbagi menjadi dua bentuk pertunjukan, yakni Baris Nanda Pengerebegan dan Baris Nanda Masesapuh.

Pada Baris Nanda Pengerebegan, yang digelar di wantilan, para penari tampil dalam formasi pasukan, sering disebut sebagai Baris Ngerebeg.

 

Prosesi ini diawali dengan persembahan Tipat Sodan Daksina dan besek atetukon (berisi buah dagangan) kepada Ista Dewata.

 

Setiap peserta juga menerima uang Rp2.000 yang dijadikan taruhan simbolis dalam Ajejuden—permainan simbolik berupa perang-perangan seperti perang tingkih, perang taluh, dan perang nyuh.

“Simbolisasi ini menggambarkan pertaruhan antara para dewa dan raksasa saat memutar Gunung Mandaragiri demi memperoleh tirta amerta, air kehidupan abadi,” jelas Anom.

 

Setelah sesi Ajejuden, prosesi dilanjutkan dengan Ngarebeg, yaitu iring-iringan mengelilingi pura sebanyak tiga kali berlawanan arah jarum jam, sambil membawa Pajeng Tanda.

 

Penari kemudian membentuk lingkaran mengelilingi lokasi ritual, menciptakan aura sakral yang mengiringi prosesi.

 

Sementara itu, Baris Nanda Masesapuh dipentaskan sebagai simbol penyucian alam semesta atau dikenal sebagai Nyapuh Jagat.

Kata masesapuh sendiri berasal dari kata sapuh, yang berarti sapu. Dalam konteks ritual, hal ini dimaknai sebagai upaya menyapu dan membersihkan unsur negatif (nyudhamala).

 

Para penari berjalan berpasangan, mengelilingi pemangku sebanyak tiga kali di Utamaning Mandala atau Gedong Agung Pura Petilan.

 

Dengan seluruh rangkaian ini, Tari Baris Nanda bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan perwujudan spiritual masyarakat Kesiman dalam menjaga keseimbangan alam dan hubungan suci dengan Sang Pencipta.(*)

 

Editor : Suharnanto
#Desa adat #Kesiman #taris baris nanda #ngilen #galungan #denpasar timur