Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Makna Filosofis Segehan Manca Warna Dalam Tradisi Hindu Bali: Bawang Merah Sebagai Penangkal Energi Negatif

I Putu Mardika • Senin, 5 Mei 2025 | 14:19 WIB
Segehan Manca Warna
Segehan Manca Warna

JEMBRANAEXPRESS.COM-Dalam tradisi Hindu Bali, segehan merupakan bentuk persembahan yang ditujukan kepada Bhuta Kala, makhluk halus simbol kekuatan destruktif alam semesta.

 

Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan dan keharmonisan antara manusia dan unsur alam yang tak kasatmata.

 

Wujud segehan pun sangat beragam, tergantung pada tujuan serta jenis permohonan yang diajukan. Salah satu jenis yang cukup dikenal adalah Segehan Manca Warna.

Dr. Wayan Murniti, M.Ag, dosen Upakara di STAHN Mpu Kuturan Singaraja, menjelaskan bahwa meski bentuk dan alas segehan dapat bervariasi di tiap daerah, bahan utamanya tetap sama: nasi (sega).

 

Perbedaan biasanya terlihat pada media alas yang digunakan. Ada yang memakai daun pisang, janur, slepan, hingga daun pohon seperti dadap.

Sebagai simbol persembahan, segehan disusun dari nasi dan diberi lauk yang memiliki aroma serta rasa tajam, seperti bawang merah, jahe, dan jeroan mentah.

 

Unsur ini dipercaya sebagai kesukaan bhuta kala dan para pengikutnya. Selain lauk, segehan dilengkapi dengan tetabuhan, yakni lima jenis cairan: arak, tuak, berem (fermentasi tape), darah, dan air.

 

 

“Setiap unsur dalam segehan memiliki makna filosofis tersendiri,” terang Wayan Murniti.

 

Bawang merah dan jahe, misalnya, dikenal memiliki aroma kuat dan rasa tajam. Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, unsur yang menyengat ini disukai oleh bhuta kala.

Tak heran, bawang merah juga dipercaya mampu menangkal energi negatif. Tak jarang, masyarakat mengoleskan bawang merah di ubun-ubun bayi sebagai perlindungan, atau di pintu rumah sebagai penangkal gangguan tak kasat mata.

 

Garam pun turut menjadi bagian penting dalam segehan. Dalam kehidupan sehari-hari, garam dikenal sebagai penyedap, begitu pula dalam konteks ritual: fungsinya adalah memberi "rasa" pada persembahan agar lebih menggugah bagi bhuta kala.

 

Diharapkan, dengan rasa yang nikmat, para bhuta kala menjadi puas dan tidak mengganggu manusia.

Minuman pelengkap atau tetabuhan juga tak kalah penting. Minuman keras seperti arak, tuak, dan berem dipersembahkan karena diyakini sesuai dengan sifat bhuta kala yang digambarkan sebagai sosok kasar, mabuk, dan tidak terkendali.

 

Tambahan darah dalam ritual ini sering dilakukan melalui praktik tajen (adu ayam) atau penyembelihan anak ayam atau itik, yang dikenal dengan istilah penyambleh. Namun dalam praktik sehari-hari, darah kerap diganti dengan telur sebagai simbol yang dianggap setara.

 

 

Api menjadi unsur terakhir yang menggenapi ritual ini. Dalam bentuk dupa atau api takep (api dari sabut kelapa), elemen ini melambangkan kehadiran Dewa Brahma—Dewa Api.

Asap dari dupa dipercaya membawa doa-doa umat ke alam para dewa dan makhluk halus. Lebih jauh lagi, dupa juga merepresentasikan kehadiran Sang Hyang Surya, Dewa Matahari, dan Sang Hyang Triyodasasaksi—tiga belas manifestasi Tuhan yang diyakini menyaksikan jalannya ritual.

 

“Dengan kehadiran simbol-simbol suci tersebut, maka persembahan melalui segehan dianggap sah dan diterima,” tutup Murniti.(*)

 

Editor : Suharnanto
#manca warna #hindu bali #segehan #tradisi #bawang merah #makna filosofis