JEMBRANAEXPRESS.COM-Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru merupakan salah satu tarian sakral yang dipentaskan di Pura Sang Hyang Klakah, Tegalalang, Gianyar.
Tarian ini bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi merupakan bagian dari warisan spiritual yang diwariskan secara turun temurun dengan mitologi tentang kehadiran Sanghyang Dedari.
Tarian ini digelar secara khusus setiap Purnama Kapat dan hanya dimainkan oleh seorang penari utama yang disebut tapakan.
Penari tapakan dipilih melalui proses spiritual yang dikenal dengan ngalinggihin, tanpa memandang usia—baik anak-anak maupun remaja bisa terpilih, selama tidak dalam keadaan cuntaka (tidak suci).
Salah satu penari tapakan, Ni Komang Debby Julianawati, menjelaskan bahwa sebelum bisa menarikan Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru, penari harus menjalani beberapa tahapan ritual dengan hitungan ganjil (3, 5, 7, 9, hingga 11 kali).
Proses tersebut diakhiri dengan upacara Metebasin, dengan harapan sang penari akan mendapatkan kelinggihan atau wahyu untuk menarikan kembali di masa depan.
Sebelum pementasan, prosesi melukat atau penyucian diri menjadi tahapan penting. Kemudian, dilanjutkan dengan prosesi Nusdus, di mana dua penari pria mengangkat penari utama dan dua lainnya menarikan tedung untuk mengiringi gerak sakral sang tapakan.
Kidung suci dinyanyikan untuk mengundang aura sakral sekaligus sebagai pembuka prosesi.
Pementasan dimulai dengan tahap Masolah, di mana penari naik ke tragtag—tempat menyimpan atribut tarian—lalu dilanjutkan dengan pertunjukan penari pandung yang membawa keris mandung.
Gerakan khas dalam Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru meliputi Agem Tengen, Agem Kiwa, Ngegol, Ngejet Pala, Nyeleog, hingga gerakan sakral Ngelidin Wajah Angge Kekereb, di mana wajah ditutup dengan kain bermotif putih bernama kekereb yang memiliki makna spiritual mendalam.
Tarian ini diiringi oleh barungan gamelan bebatelan serta gending-gending suci. Dalam prosesi nuwur, sebuah sapu lidi khusus berisi 66 batang dihias dengan bunga-bunga pilihan seperti Tunjung, Jempiring, Sandat, hingga Cempaka.
Sapu lidi ini dikenal dengan nama Sanghyang Sampat, dipegang oleh para Pemangku Selengan Istri yang memimpin doa.
Puncak pertunjukan adalah ketika Dedari Tunjung Biru memberikan tirta atau air suci kepada para peserta, menciptakan suasana penuh berkah dan kesakralan.
Prosesi ini diyakini sebagai bentuk turunnya roh suci yang merasuki tapakan, dan diakhiri dengan momen munggah, simbol bersatunya seluruh unsur spiritual dalam keharmonisan semesta.
Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru bukan hanya simbol seni, tapi juga refleksi keyakinan dan spiritualitas masyarakat Bali yang menjunjung tinggi warisan leluhur dan nilai-nilai sakral dalam kehidupan.(*)
Editor : Suharnanto