Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Simbol Suci Hindu di Bali Kian Dikomersialkan, Sosiolog Soroti Ancaman Hilangnya Kesakralan

I Putu Mardika • Senin, 25 Mei 2026 | 23:13 WIB
Komang Agus Dharma Yoga Kantina, M.Sosio. (ist)
Komang Agus Dharma Yoga Kantina, M.Sosio. (ist)

JembranaExpress.Com - Fenomena pemanfaatan simbol-simbol suci Hindu dalam industri pariwisata Bali kembali menjadi perhatian publik di tengah semakin masifnya komersialisasi budaya dan agama.

 

Mulai dari penggunaan aksara suci pada produk komersial, visualisasi dewa-dewi Hindu sebagai ornamen dekoratif, hingga praktik ritual yang dikemas menjadi atraksi wisata, memunculkan perdebatan antara kepentingan ekonomi dan kesucian nilai spiritual.

Baca Juga: Pemkab Bangli Siapkan Penataan Besar Desa Wisata Terunyan, Targetkan Wisatawan Meningkat

Kondisi ini dinilai tidak hanya berkaitan dengan persoalan budaya, tetapi juga menyentuh dimensi sosiologis masyarakat Bali yang selama ini menjadikan agama sebagai fondasi kehidupan sosial.

 

Sosiolog Institut Mpu Kuturan Singaraja, Komang Agus Dharma Yoga Kantina, menilai simbol-simbol suci dalam Hindu sejatinya bukan sekadar objek visual bernilai estetika, melainkan memiliki makna spiritual yang hidup di tengah masyarakat.

 

“Dalam perspektif sosiologi agama, simbol suci bukan hanya benda mati. Ia hidup karena ada keyakinan kolektif masyarakat terhadap makna spiritual yang dikandungnya. Ketika simbol itu dipindahkan dari ruang sakral ke ruang komersial tanpa batas yang jelas, maka terjadi pergeseran makna,” ujarnya.

 

Menurutnya, masyarakat Bali selama ini membangun relasi sosial melalui simbol-simbol sakral yang hadir dalam ritual, pura, upakara, aksara suci, maupun seni wali yang diwariskan secara turun-temurun.

 

Ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali, simbol memiliki fungsi sosial sekaligus religius. Simbol menjadi media penghubung antara manusia dengan Hyang Widhi sekaligus memperkuat solidaritas sosial masyarakat adat.

Baca Juga: Bau Menyengat Bongkar Penemuan Jasad Pria di Kamar Kos Denpasar Timur

Karena itu, simbol-simbol seperti Omkara, Swastika, pratima, rerajahan, hingga sarana upacara tidak dapat dipahami hanya dari bentuk visualnya semata.

 

Menurut Komang Agus Dharma Yoga Kantina, hakikat simbol bukan terletak pada bentuk materialnya, melainkan pada makna spiritual di balik simbol tersebut. Dalam konteks Hindu Bali, simbol-simbol keagamaan memiliki orientasi transendental dan digunakan sebagai media bhakti kepada Tuhan beserta manifestasi-Nya.

 

Ia menilai persoalan mulai muncul ketika simbol-simbol suci direduksi menjadi komoditas pasar. Globalisasi dan industri pariwisata disebut mendorong logika ekonomi yang menjadikan hampir seluruh aspek budaya Bali sebagai komoditas wisata.

 

Akibatnya, batas antara ruang sakral dan profan menjadi semakin kabur.

 

“Ketika masyarakat terlalu bergantung pada pariwisata, muncul kecenderungan untuk mengkomersialisasikan segala sesuatu demi nilai ekonomi. Bali memang hidup dari pariwisata budaya, tetapi jangan sampai budaya dan agama kehilangan ruh kesakralannya,” katanya.

Baca Juga: Warga Jimbaran Geger! Bayi Perempuan Ditemukan Selamat Terbungkus Kain di Semak-Semak

Ia mencontohkan sejumlah fenomena yang kerap menuai kritik di masyarakat, seperti penggunaan simbol Omkara pada produk fesyen dan aksesoris, tato bergambar Dewa Ganesa di bagian tubuh yang dianggap tidak pantas, hingga paket wisata ritual yang menjadikan upacara suci sebagai tontonan komersial.

 

Dalam perspektif sosiologi budaya, praktik tersebut menunjukkan terjadinya desakralisasi simbol.

 

Menurutnya, masyarakat modern kerap melihat simbol hanya sebagai estetika visual tanpa memahami konteks religius di baliknya. Padahal dalam tradisi Hindu Bali, sebuah simbol telah melalui proses sakralisasi melalui upacara tertentu seperti pasupati, melaspas, atau ngenteg linggih sebelum digunakan sebagai media ritual.

 

“Begitu simbol disucikan, maka statusnya berubah. Ia bukan lagi benda biasa, melainkan bagian dari ruang spiritual masyarakat. Kalau simbol itu diperlakukan sembarangan demi kebutuhan industri, maka masyarakat akan merasa identitas religiusnya terganggu,” jelasnya.

Baca Juga: Petani Nira di Ubud Jatuh dari Pohon Enau 12 Meter, Alami Patah Tulang Belakang

Ia juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap klasifikasi simbol suci Hindu, mulai dari yang bersifat sakral untuk yadnya, semi sakral, hingga profan sebagai hiburan budaya.

 

Menurutnya, edukasi budaya dan literasi agama perlu diperkuat, terutama di tengah perkembangan media digital yang membuat simbol-simbol Hindu mudah direproduksi tanpa kontrol.

 

“Anak muda sekarang hidup di era visual dan media sosial. Simbol-simbol suci sering dipakai sebagai konten estetis tanpa pemahaman makna. Ini menjadi tantangan besar karena generasi muda perlahan bisa kehilangan sensitivitas terhadap nilai sakral,” ujarnya.

 

Sebagai destinasi wisata dunia, Bali dinilai menghadapi dilema antara menjaga tradisi dan memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat. Namun menurutnya, pariwisata seharusnya tidak hanya mengejar keuntungan material, tetapi juga memperhatikan etika budaya dan keberlanjutan spiritual masyarakat lokal.

Baca Juga: Mengenal I Putu Bagus Padmanegara, Pemuda Bali Berprestasi Tingkat Nasional

Ia menilai konsep pariwisata berbasis budaya seharusnya dibangun di atas penghormatan terhadap nilai-nilai lokal. Wisatawan juga perlu diberikan pemahaman mengenai tata krama memasuki pura, penggunaan simbol suci, hingga batas-batas yang tidak boleh dilanggar.

 

Dengan demikian, pariwisata tidak menjadi ruang eksploitasi budaya, melainkan sarana edukasi lintas budaya.

 

“Pariwisata Bali justru akan kuat kalau tetap menjaga otentisitas dan kesuciannya. Dunia datang ke Bali bukan hanya karena pantainya, tetapi karena spiritualitas dan budaya masyarakatnya. Kalau nilai sakral itu hilang, Bali akan kehilangan identitasnya,” tegasnya.

 

Ia juga menyoroti pentingnya peran pemerintah, desa adat, lembaga pendidikan, serta tokoh agama dalam menyusun regulasi dan edukasi terkait perlindungan simbol-simbol suci Hindu.

Baca Juga: Aci Pertiwi di Gianyar, Ratusan Pemuda Hindu Tanam Pohon Sambut Tumpek Wariga

Dalam konteks sosiologi agama, simbol suci disebut berfungsi sebagai perekat sosial yang membangun solidaritas masyarakat Bali. Karena itu, pelecehan atau penodaan terhadap simbol-simbol tersebut dinilai tidak hanya sebagai pelanggaran agama, tetapi juga dapat memicu ketegangan sosial di tengah masyarakat.

 

“Simbol suci itu menyangkut identitas kolektif masyarakat Hindu Bali. Ketika simbol itu dilecehkan, yang terluka bukan hanya individu, tetapi memori budaya dan kesadaran sosial masyarakat secara bersama-sama,” pungkasnya.***

Editor : I Gde Riantory Warmadewa
#simbol suci agama hindu #adat dan budaya bali #indentitas spiritual #institut mpu kuturan singaraja #hindu bali