Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Tradisi Muayon di Desa Cempaga Tetap Lestari, Jadi Media Pendidikan Budaya Generasi Muda

I Putu Mardika • Senin, 25 Mei 2026 | 23:16 WIB
Kelian Banjar Adat Desa Cempaga, Putu karya Dharma. (ist)
Kelian Banjar Adat Desa Cempaga, Putu karya Dharma. (ist)

JembranaExpress.Com - Tradisi Upacara Muayon yang masih lestari di Desa Adat Cempaga terus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat.

 

Upacara yang diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga menjadi media pendidikan budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal identitas dan tradisi leluhur mereka.

Baca Juga: Simbol Suci Hindu di Bali Kian Dikomersialkan, Sosiolog Soroti Ancaman Hilangnya Kesakralan

Kelian Adat Cempaga, Putu Karya Dharma, mengatakan Upacara Muayon merupakan tradisi lama yang hingga kini masih dijaga masyarakat desa adat.

 

Menurutnya, tradisi tersebut menjadi simbol kebersamaan warga sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan tata kehidupan adat dan spiritual masyarakat Cempaga.

 

“Upacara Muayon bukan hanya sekadar upacara, tetapi juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap menjaga nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujarnya.

 

Dalam pelaksanaannya, Upacara Muayon melibatkan seluruh krama desa melalui berbagai tahapan, mulai dari rapat adat, ngayah, melasti, hingga persembahyangan bersama.

 

Tradisi ini juga menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami tata cara upacara adat secara langsung.

Baca Juga: Pemkab Bangli Siapkan Penataan Besar Desa Wisata Terunyan, Targetkan Wisatawan Meningkat

Putu Karya Dharma menjelaskan keterlibatan anak-anak muda dalam kegiatan adat sangat penting agar tradisi tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

 

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga minat generasi muda agar tetap peduli terhadap budaya lokal di tengah pengaruh modernisasi dan perkembangan teknologi.

 

“Kami selalu mengajak generasi muda untuk ikut ngayah dan terlibat dalam upacara. Dengan begitu mereka belajar langsung tentang adat, etika, dan tanggung jawab sosial di desa,” katanya.

 

Selain memiliki nilai religius, Upacara Muayon juga mengandung nilai pendidikan sosial yang kuat. Tradisi tersebut mengajarkan masyarakat tentang kerja sama, disiplin, serta rasa saling menghormati antarwarga.

 

Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat adat di Desa Cempaga.

Baca Juga: Bau Menyengat Bongkar Penemuan Jasad Pria di Kamar Kos Denpasar Timur

Ia menambahkan, Upacara Muayon juga menjadi bentuk pendidikan berbasis budaya lokal karena mampu menanamkan nilai religius, solidaritas sosial, pelestarian budaya, hingga pengembangan keterampilan masyarakat.

 

Putu Karya Dharma berharap tradisi Muayon tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Bali Aga di Desa Cempaga.

 

Menurutnya, pelestarian adat dan budaya tidak cukup dilakukan melalui seremoni semata, tetapi juga melalui pemahaman makna yang terkandung dalam setiap tradisi.

Baca Juga: Warga Jimbaran Geger! Bayi Perempuan Ditemukan Selamat Terbungkus Kain di Semak-Semak

“Kalau generasi muda memahami makna dari tradisi ini, mereka akan memiliki rasa bangga untuk menjaga warisan leluhur. Itu yang paling penting,” pungkasnya.***

Editor : I Gde Riantory Warmadewa
#taksu bali #tradisi upacara muayon #buleleng #desa adat cempaga #Warisan Budaya Bali