Tektekan Kerambitan, Tradisi Sakral Saat Sasih Kenem untuk Menetralisir Energi Negatif

I Putu Mardika • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 08:37 WIB
Kesenian Tektekan yang masih dilestarikan masyarakat Desa Kerambitan, Tabanan. (ist)
Kesenian Tektekan yang masih dilestarikan masyarakat Desa Kerambitan, Tabanan. (ist)

JembranaExpress.Com - Kesenian Tektekan hingga kini masih lestari di Desa Kerambitan, Kecamatan Kerambitan, Tabanan. Tradisi berupa bunyi-bunyian dari bambu tersebut bukan sekadar kesenian tradisional, tetapi juga memiliki makna spiritual bagi masyarakat setempat.

 

Tektekan dipercaya sebagai salah satu sarana untuk menetralisir energi negatif yang dapat mengganggu keharmonisan kehidupan masyarakat. Tradisi ini biasanya dilaksanakan memasuki Sasih Kenem atau sasih keenam dalam kalender Bali.

Baca Juga: Tiba-Tiba Pindah Lajur saat Nyalip, Pengendara Nmax asal Buleleng Tewas Tabrakan di Denpasar

Anak Agung Ngurah Adnya Praba dari Puri Kerambitan menjelaskan, istilah Tektekan berasal dari bunyi bambu yang menghasilkan suara khas “tek, tek, tek”. Bunyi tersebut muncul dari sekumpulan kulkul yang ditabuh secara beramai-ramai.

 

“Nektek berarti membunyikan gamelan dari bambu yang maksudnya adalah untuk menetralisir energi negatif. Tektekan dapat diartikan sebagai jenis gamelan dari bambu,” jelasnya.

 

Menurut Adnya Praba, tradisi nektek telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Kerambitan. Tradisi tersebut disebut berkembang sejak masa pemerintahan Ida Anglurah Gede Taman.

 

Dalam kehidupan masyarakat Bali, sasih memiliki kaitan erat dengan pelaksanaan berbagai kegiatan ritual. Memasuki Sasih Kenem, masyarakat Kerambitan melaksanakan ritual di masing-masing prahyangan yang dikenal dengan istilah Mererebhu Bhumi.

 

Sasih keenam dipandang sebagai sasih wayah atau periode menuju Sasih Kasanga. Karena itu, masyarakat melaksanakan ritual sebagai bagian dari upaya menyucikan bhuwana sekaligus memohon agar kehidupan masyarakat terhindar dari berbagai hal buruk.

 

“Karena dianggap sasih ke-6 sasih yang wayah sampai pada sasih kasanga, sehingga perlu diadakan ritual menyucikan bhuwana agar tidak terjadi hal-hal yang buruk di masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga: Bule Australia Rusak Kaca Reklame Pub di Pecatu, Ngaku Stres Masalah Keluarga dan Berakhir Damai

Pelaksanaan nektek biasanya dilakukan pada awal Sasih Kenem, tepatnya saat sandikala atau masa peralihan dari sore menuju malam.

 

Anak-anak hingga orang dewasa kemudian mengambil berbagai benda yang dapat menghasilkan bunyi. Mereka berkelompok dan berjalan mengelilingi wilayah desa sambil membunyikan benda-benda tersebut.

 

Tradisi tersebut dipercaya memiliki makna untuk menetralisir kekuatan negatif atau bebhutan agar tidak mengganggu kehidupan masyarakat.

 

Rangkaian pementasan Tektekan juga berkaitan erat dengan keberadaan Saren Gong. Tempat tersebut sangat disakralkan oleh masyarakat Desa Kerambitan karena menjadi linggih sesuhunan Ida Bhatara Biang Sapuh Jagat.

Baca Juga: Atma Wedana hingga Mepandes Digelar Massal di Kuta, Bupati Adi Arnawa: Bukti Kokohnya Gotong Royong

Selain sebagai tempat yang disakralkan, Saren Gong juga menjadi tempat penyimpanan perangkat gamelan Tektekan serta sejumlah perlengkapan sakral lainnya.

 

“Keberadaan Saren Gong sekarang sangat disakralkan oleh masyarakat Desa Kerambitan,” pungkasnya.***

Editor : I Gde Riantory Warmadewa
kesenian tektekan desa kerambitan sasih kenem tradisi bambu tabanan