Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Alun-Alun Kota Blitar: Menelusuri Keajaiban Sejarah, Pertarungan Maut Rampogan Macan, hingga Transformasi Modernnya!

I Putu Suyatra • Selasa, 9 Januari 2024 | 13:47 WIB
Tugu Nol Kilometer di Alun-Alun Kota Blitar./(MILA INKA DEWI/RADAR BLITAR)
Tugu Nol Kilometer di Alun-Alun Kota Blitar./(MILA INKA DEWI/RADAR BLITAR)

BLITAR, JEMBRANA EXPRESS - Blitar, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang kaya akan cerita sejarah menarik di era kolonial Belanda, mencakup luas wilayah 1,336,48 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 126.600,39 jiwa.

Kota ini dikenal sebagai 'Kota Proklamator' karena menjadi tempat peristirahatan Sang Proklamator, Ir. Soekarno, Presiden Pertama Indonesia.

Kota Blitar tidak hanya dipenuhi dengan jejak perjuangan pahlawan, tetapi juga menawarkan berbagai destinasi pariwisata bersejarah.

Salah satunya adalah Alun-Alun Kota Blitar, menjadi saksi bisu dari sejarah Kabupaten Blitar.

Menurut laporan dari Radar Tulungagung (Jawa Pos Group), pusat pemerintahan Kabupaten Blitar awalnya berada di sekitar Sungai Pakunden.

Namun, Bupati Blitar pertama, Mr. Aryo Ronggo Hadinegoro, memindahkan pusat pemerintahan tersebut karena dampak letusan Gunung Kelud.

Alun-Alun Kota Blitar juga mengalami dampak erupsi Gunung Kelud pada masa kolonial Belanda.

Pada masa itu, tempat ini menjadi lokasi untuk ritual rampogan macan, di mana manusia bertarung dengan macan atau harimau.

Konon, ritual ini menyebabkan penurunan drastis populasi harimau Jawa hingga mendekati kepunahan.

Pada tahun 1887, bahkan 8 ekor harimau dikorbankan untuk merayakan pernikahan putra Bupati Blitar, RM Djojosoeparto.

Rampogan Macan, pada awalnya dianggap sebagai rekreasi oleh warga Blitar, akhirnya dihentikan pada tahun 1910 ketika Pemerintah Hindia-Belanda mengeluarkan Undang-Undang Perlindungan untuk mamalia dan burung liar.

Saati ini, Alun-Alun Blitar telah diubah menjadi tempat transit para pamong praja atau rakyat yang akan menghadap Bupati.

Selain itu, tempat ini juga menjadi tuan rumah berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Bupati.

Meskipun kini lebih berfokus pada ruang tata hijau untuk kegiatan masyarakat seperti upacara, olahraga, dan area bermain, Alun-Alun Blitar tetap memancarkan sejarahnya yang kaya. (*) 

 

Editor : I Putu Suyatra
#sejarah #blitar #macan #harimau jawa #alun-alun