Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Kisah Nelayan Lombok yang Selamat dari Gempuran Ombak Laut Selatan Malang: Saya dari Kampung 16 Jam Perjalanan Laut, Dia Bukan Cuma Teman …Dia Saudara

Putu Mita Damayanti • Senin, 28 April 2025 | 02:14 WIB
Zulpa Komandani nelayan muda asal Lombok Timur  disamping jenazah rekannya yang meninggal tersapu ombak laut selatan Malang.
Zulpa Komandani nelayan muda asal Lombok Timur disamping jenazah rekannya yang meninggal tersapu ombak laut selatan Malang.

JEMBRANAEXPRESS.COM-Malam itu, suasana di Instalasi Forensik RSSA Malang begitu sunyi, hanya sesekali terdengar isak pelan.

 

Di sudut ruangan, Zulpa Komandani nelayan muda asal Lombok Timur itu menunduk dalam, menahan perih yang nyaris tak tertahankan setelah rekannya meninggal tersapu ombak laut Selatan Malang.

 

Di hadapannya, terbaring peti jenazah Suparman — sahabat seperjalanan yang kini hanya bisa ia pandangi dalam diam.

Rambut Zulpa yang masih basah dan kusut, bekas air laut yang belum sempat kering, menjadi saksi bisu tragedi yang baru saja mereka alami di Pantai Kondangmerak.

 

"Dia bukan cuma teman... dia saudara," bisik Zulpa dengan suara serak, air matanya jatuh satu per satu.

Hanya berbekal harapan, Zulpa, Suparman, Sahnan, dan Mujenan meninggalkan kampung halaman mereka.

 

Empat sekawan ini menempuh 16 jam perjalanan laut menuju Malang, tergoda kabar bahwa musim ikan sedang melimpah di perairan Sendangbiru.

 

Selama dua pekan, mereka hidup sederhana, tidur di pondok kecil di depan kantor Bank BRI, menggantungkan nasib dari hasil laut.

 

Namun, Jumat malam (25/4) menjadi malam yang mengubah segalanya.

Mengejar ikan mogong — si parrotfish yang mahal — mereka nekat memancing dari atas karang. Ketika kail Suparman dan Sahnan tersangkut, keduanya memutuskan untuk turun ke laut, bermodalkan kompresor sederhana.

 

Mereka tak tahu, maut sudah mengintai di balik gelombang.

 

Tiba-tiba ombak besar datang, satu demi satu, tanpa ampun. "Tujuh kali ombak besar menghantam kami," cerita Zulpa, suaranya bergetar, matanya kosong. "Mereka... nggak sempat naik lagi."

Zulpa dan Mujenan berhasil bertahan di tengah amukan laut. Tapi Suparman ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, sementara Sahnan masih hilang hingga malam itu.

 

Penyesalan tampak membayangi wajah Zulpa. Ia tahu risiko melaut di musim gelombang. Tapi kebutuhan hidup dan janji ikan yang melimpah membuat mereka mengabaikan bahaya.

 

"Kami tahu... tapi tetap berangkat. Ada yang bilang ikannya banyak," lirihnya.

 

Di ruang dingin itu, Zulpa terus memandangi peti sahabatnya. Laut yang selama ini memberi mereka makan, kini juga mengambil bagian dari hidup mereka — meninggalkan luka yang sulit sembuh.(*)

 

Editor : Suharnanto
#laut selatan #malang #tersapu ombak #nelayan