
Namun tidak menutup kemungkinan senantiasa mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dikatakan Kelian Adat Tigawasa, Made Sudarmayasa, rumah Adat Desa Tigawasa berorintasi pada konsep tata letak hulu-teben (tinggi-rendah).
Peletakan setiap unit bangunan dalam pekarangan rumah tergantung pada fungsi dan nilai kesakralannya.
“Leluhur kami menggunakan ulu teben sebagai konsep tata letak. Dimana ketinggian sebagai nilai utama sedangkan daerah nistanya pada daerah yang lebih rendah,” ungkapnya.
Semua unit bangunan yang ada dalam rumah masyarakat Desa Adat Tigawasa berorientasi ke natah (teben). Natah merupakan tempat yang paling rendah (teben) lingkungan terbangun, baik dalam rumah/unit hunian maupun desa
Paling selatan adalah ruang dengan peruntukan bangunan sanggah. Kedudukan lantai sanggah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan sakaroras, maupun dengan natah dan bangunan lainnya.
Jika di dalam satu unit pekarangan terdapat beberapa kepala keluarga maka hanya terdapat satu lahan tempat suci, dengan menempatkan sanggah di tempat itu pula.
Sedangkan bangunan baru dibangun di area natah atau halaman. Posisinya lebih ke utara bangunan setelah sanggah adalah sakaroras.
Ia menambahkan hal yang menjadi pedoman dalam orientasi pembangunan rumah adat adalah akses jalan.
Bila diperhatikan, maka umumnya posisi jalan merupakan daerah rendah dari pekarangan.
Dikatakan Sudarmayasa, seiring dengan kemajuan jaman dan mulai masuknya pengaruh-pengaruh dari luar menjadi salah satu faktor yang menyebabnya adanya perubahan pada pola ruang rumah tradisional Desa Tigawasa.
Menurutnya, generasi yang menempati rumah tersebut memiliki sifat keterbukaan dan pola pikir yang lebih modern.
Pihaknya tak menampik, perubahan mendasar yang terdapat pada rumah tradisional adalah adanya letak dapur yang semula berada di dalam sakaroras kini berada luar sakaroras namun masuh dalam area pekarangan.
Letak atau posisi dapur yang baru di area teben dari sakaroras baik itu di sebelah kanan, kiri atau depan tergantung dari ketersediaan lahan yang ada dalam pekarangan.
“Hal ini mengingat dapur memiliki tingkat kesakralan yang lebih rendah dari sakaroras. Selain perubahan letak dapur, juga terdapat penambahan bangunan baru, yaitu bangunan untuk kamar tidur anak serta kamar mandi,” pungkasnya. (dik)
