
Tokoh masyarakat Desa Ban, Wayan Potag mengungkapkan, dalam ngusabha negen ini memakai kayu dari bambu yang biasa disebut sanan (penyangga) dipakai negen atau memikul untuk mencari air.
Sedangkan sarana pokok dalam ngusabha negen ini adalah pisang, buah-buahan, dan jajan (jaje uli dan jaje gina) yang dikemas dalam bentuk tegen-tegenan. Umumnya, buah yang digunakan saat ritual ini dilaksanakan adalah buah lokal, seperti mangga, mente, dan jajan serta bebantenan lainnya yang akan dipersembahkan di Bale Agung dan Palinggih dan ada tarian yang disebut tari Ngalagar.
Dalam Ngusabha negen ini setiap masing-masing Kepala Keluarga di Desa Adat Ban.“Krama ini diharuskan membuat banten tegenan ini 1 pasang, kemudian banten tegen-tegenan tersebut diarak menglilingi Pura Puseh sebanyak 3 kali oleh kepala keluarga yang bergantian dengan anak laki-lakinya,” ungkap Potag.
Pelaksanaan Ngusaba negen ini ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali yaitu pada Purnamaning sasih ketiga, bertempat di Pura Puseh, Desa Adat Ban. Ngusabha Negen ini dilaksanakan sebagai ungkapan puji syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi yang telah memberikan kehidupan serta kemakmuran bagi masyarakat Desa Ban.
“Pada momen ini, kami mempersembahkan segala dari hasil Bumi yang dikemas secara sederhana dalam bentuk Tegen-Tegenan. Dalam Ngusabha Negen ini terdapat tarian sakral yang disebut tari Ngalagar yang ditarikan oleh prajuru adat dan truna truni secara spontan,” paparnya.
Seluruh prosesi dari Ngusabha Negen dilakukan oleh Krama Desa Ban di bawah pimpinan Kelian Adat. Pelaksanaan Ngusabha Negen memuja Dewi Sri atau Dewi kemamkmuran yang merupakan sakti dari Dewa Wisnu yang berstana di Pura Puseh.
Ngusabha Negen ini diyakini dapat menetralisir kekuatan negatif yang ada di wilayah Desa Adat Ban yang ditimbulkan oleh Bhuta Kala. “Diharapkan Bhuta Kala tidak mengganggu kehidupan Krama Desa Adat Ban, dengan mempersembahkan sarana penyomya bhuta yang terdiri dari tirtha, tuak, dan arak,” tutupnya. (dik)


