
Sebab, tradisi ini menggunakan sarana Kijang yang diburu oleh krama dari segala usia, mulai dari kaum tua hingga anak remaja.
Kelian Adat Cempaga, Putu Karya Darma menjelaskan, rentetan upacara Saba Kuningan di Desa Cempaga meliputi persiapan upacara, puncak upacara dan penutup.
Pada persiapan upacara Saba Kuningan ini seluruh kekuatan masyarakat digunakan, termasuk sekaa teruna atau anak-anak muda di desa tersebut.
Mereka mengawali kegiatan dengan ngayah, membersihkan lingkungan pura dan desa, setelah itu berburu Binatang Kijang.
Selanjutnya mengerahkan masyarakat untuk mebat atau mengolah daging buruan yang digunakan untuk keperluan upacara ritual.
“Bila memperoleh kijang betina diolah menjadi berabagai jenis makanan seperti jajeruk, gagecok, urab putih, timbungan. Bila yang diperoleh kijang jantan diolah sebagaimana jenis olahan kijang betina, namun ditambah dengan olahan berupa sate,” katanya.
Olahan dimaksud ditempatkan di samping olahan makanan yang berbahan babi.
Bila memperoleh kijang jantan dalam perburuan, upacara kuningan tersebut diperpanjang perayaannya yang disebut dengan Naksuin.
Setelah mengolah hasil buruan, mereka dikoordinir oleh seorang yang bernama sayan desa yakni seorang yang bertugas mengkoordinir masyarakat untuk segala aktivitas dalam Saba Kuningan.
“Cara sayan desa menyebar informasi pun menarik, yakni dengan memegang tampul bale gede lalu mengeluarkan kata-kata yang bernada ajakan untuk gotong royong,” imbuhnya.
Misalnya desa pesu jaja nasi, desa pesu mebat yang artinya desa mengeluarkan jajanan dan nasi, desa keluar untuk membuat olahan daging buruan.
Menariknya, masyarakat dengan penuh kegairahan mengikuti apapun komando yang dikeluarkan oleh sayan desa ini.
Setelah selesai membuat olahan, mereka akan membersihkan alatalat yang digunakan untuk menabuh dan membersihkan segala jenis peralatan yang digunakan untuk upacara ritual Saba Kuningan.
Para seniman seperti penabuh dan penari diberikan kesempatan untuk latihan untuk menyambut para dewa yang akan turun ketika upacara dilaksanakan.
Selanjutnya, setelah olahan makanan sudah tersedia, maka sayan desa kembali memanggil krama desa dan krama teruna untuk mengambil hak mereka berupa lawar atanding
Dalam rangkaian persiapan upacara Saba Kuningan, masyarakat di Desa Cempaga diminta untuk menjalankan kewajiban.
Setelah selesai melaksanakan kewajiban tersebut, barulah mereka akan dipenuhi hak-haknya.
“Tidak hanya lawar atanding, krama juga dipersilakan mengambil makanan yang sudah disediakan. Pada puncak upacara dan penutup, krama benar-benar guyub memuja para dewa melalui tarian dan tetabuhan, begitu juga upacara ritual,” tutupnya. (dik)



