Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tradisi Warisan Maha Rsi Markandeya di Desa Taro

I
Penulis: I Putu Mardika❯

Pura Gunung Raung, di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar yang menjadi jejak sejarah perjalanan suci Maha Rsi Markandeya
Pura Gunung Raung, di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar yang menjadi jejak sejarah perjalanan suci Maha Rsi Markandeya
JEMBRANA EXPRESS-Keberadaan Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar tidak bisa dilepaskan dari kaitan sejarah perjalanan suci sang Maha Yogi Ida Maha Rsi Markandeya.


Advertisement

Setelah merabas hutan, beliau disebutkan membangun parahyangan untuk memberikan wejanganwejangan mengenai ajaran Dharma untuk menuntun perikehidupan masyarakat agar hidup rukun.

Dikatakan Tokoh Masyarakat  Desa Taro, Wayan Warka, Maha Rsi Markandeya juga mengajarkan tata cara bercocok tanam dan berbagai ritual-ritual penting dalam kehidupan beragama Hindu yang masih dilestarikan sampai saat ini.

Sistem pertanian Subak yang sangat tersohor ini diyakini pertama kali diajarkan di salah satu dusun yang ada di Desa Taro yaitu Dusun Puakan.

Advertisement

Adapun ritual-ritual keagamaan yang masih tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat dipercayai telah ada smenjak abad ke-7 semenjak kedatangan beliau ke tanah Bali.

Ritual-ritual unik itu misalnya tegen-tegenan, negtegin, nyaciin, mebegal-begalan dan banyak lagi tradisi unik yang sangat kental seperti umat Hindu Bali pada umumnya.

Advertisement

Legenda yang masih kerap dipercayai oleh masyarakat Desa Taro sampai saat ini terkait dengan Wuku Watugunung. Hal ini masih menjadi keramat, khususnya di Desa Adat Taro Kaja itu masih diyakini.

“Jadi setiap Wuku Watugunung, masyarakat ataupun tamu tidak diperbolehkan masuk ke tempat persembahyangan baik ke Pura maupun Merajan,” jelasnya.

Masyarakat hanya diperbolehkan sembahyang dari luar, bisa disebut dengan cuntaka. Hal ini masih sangat dipercayai dan dilakukan sampai saat ini.

“Karena pada zaman dulu terdapat sebuah musibah yang menimpa beberapa banjar di desa tersebut diantaranya banjar Puakna, Taro Kaja, Taro Kelod, Pakuseba dan Patas. Desa Taro ini memiliki 14 banjar, namun dari 14 banjar ini penerapan hal ini tidak sama,” paparnya. (dik)

Advertisement

Artikel Terkait

Harapan Baru di Hari Bhayangkara: Rumah Sederhana Ni Wayan Damuh Akan Disulap Jadi Hunian Layak

Harapan Baru di Hari Bhayangkara: Rumah Sederhana Ni Wayan Damuh Akan Disulap Jadi Hunian Layak

Polsek Tegallalang memberikan harapan baru bagi Ni Wayan Damuh melalui program bedah rumah dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80. Rumah yang sebelumnya tanpa dapur dan kamar mandi akan direnovasi menjadi lebih layak huni.

Petani Nira di Ubud Jatuh dari Pohon Enau 12 Meter, Alami Patah Tulang Belakang

Petani Nira di Ubud Jatuh dari Pohon Enau 12 Meter, Alami Patah Tulang Belakang

Seorang petani nira asal Buleleng terjatuh dari pohon enau setinggi 12 meter di Desa Kedewatan, Ubud. Korban mengalami patah tulang belakang dan dievakuasi BPBD Gianyar.

Mengenal I Putu Bagus Padmanegara, Pemuda Bali Berprestasi Tingkat Nasional

Mengenal I Putu Bagus Padmanegara, Pemuda Bali Berprestasi Tingkat Nasional

I Putu Bagus Padmanegara menjadi salah satu pemuda inspiratif Bali dengan segudang prestasi nasional, aktif di organisasi, pendidikan, hingga pengabdian masyarakat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer