DENPASAR, JEMBRANA EXPRESS - Lamak, salah satu perlengkapan upakara Hindu di Bali, memiliki makna mendalam yang mungkin tidak semua orang ketahui.
Menurut penjelasan Budayawan Kota Denpasar, Gede Anom Ranuara, Lamak bukan hanya sekadar dekorasi, melainkan sebuah simbol yang sarat akan nilai-nilai keagamaan.
Dalam wawancara eksklusif dengan Bali Express (Jawa Pos Group), Anom Ranuara menjelaskan bahwa Lamak termasuk dalam gologan Cenigan, yang merupakan kelengkapan upakara terbuat dari dedaunan dan diletakkan di berbagai lokasi, termasuk palinggih dan pelangkiran.
Menurut Anom Ranuara, Lamak adalah semacam taplak dari daun enau yang dirajut dengan lidi bambu.
Fungsinya sangat signifikan, yaitu sebagai alas untuk meletakkan sajian persembahan di palinggih dalam pelaksanaan upacara Hindu di Bali.
"Jadi, dapat disimpulkan bahwa Lamak adalah sebuah uperengga upakara yang berfungsi sebagai alas suatu persembahan," ungkapnya.
Lamak tidak hanya sekadar alas, tetapi juga sarat akan simbol-simbol agama.
Di dalamnya terdapat berbagai ukiran yang mengandung makna, seperti simbol gunung, kayonan, cili-cilian, bulan, bintang, matahari, dan lain sebagainya.
Semua simbol ini memiliki kaitan erat dengan konsep kehidupan dan spiritualitas dalam kepercayaan Hindu.
Dalam pemasangannya, Lamak dirangkaikan dengan plawa, canang, dupa, dan sampian gantung.
Ornamen-ornamen seperti gunung dan cili-cilian dipercayai sebagai simbol sumber kehidupan dan konsep rwa bhineda.
Bintang melambangkan kesejahteraan, matahari sebagai pemberi kehidupan, dan ornamen uang bolong atau Pis Bolong mencerminkan akulturasi antara kebudayaan Hindu dan Tionghoa di masa lampau.
Lamak memiliki variasi jenis sesuai dengan tata cara pemasangannya.
Ada tiga jenis Lamak utama di Bali, yaitu Lamak Terujungan, Lamak Kecil, dan Lamak Besar.
Setiap jenis Lamak memiliki tempat pemasangan yang khusus sesuai dengan kebutuhan upacara, seperti di halaman depan rumah, palinggih kecil, dan palinggih besar.
Meskipun Lamak sering dimanfaatkan sebagai sarana dekorasi, Anom Ranuara menekankan pentingnya membuat Lamak sesuai dengan tattwa agama Hindu di Bali.
Orang yang membuat Lamak juga perlu memahami bahwa proses pembuatannya sangat rentan terhadap gosip. Oleh karena itu, hendaknya dihindari ngerumpi saat membuat sarana upakara ini.
Dengan demikian, Lamak tidak hanya menjadi elemen upacara yang indah secara visual, tetapi juga mengandung makna mendalam yang merangkum nilai-nilai kehidupan dan spiritualitas dalam kepercayaan Hindu di Bali. (*)