Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Lawar Simbol Pengider-Ider

I Putu Mardika • Senin, 26 Februari 2024 | 15:48 WIB

lawar dan urab sebagai kuliner warisan Bhairawa
lawar dan urab sebagai kuliner warisan Bhairawa
JEMBRANA EXPRESS-Tradisi ngelawar merupakan tradisi yang telah ada di zaman pra Hindu. Bahkan diyakini sebagai warisan dari ajaran sekte Bhairawa. Namun setelah terjadinya lokalisasi Tantrayana melalui Hindu-Buddha di Bali, lawar kemudian disajikan sebagai simbol pangider-ider atau dewata di semua arah mata angin.

Ketua PHDI Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika, menyebut Lawar hitam (hijau) biasanya menempati arah kaja (utara), lawar merah di selatan, lawar putih di timur, lawar kuning di barat, sedangkan di tengah adalah sate dan sambal.

Komposisi arah mata angin dengan komposisi kiblat letak warna dan dewatanya ini tampak jelas dalam upacara-upacara di Bali. “Penataan tetandingan lawar sesuai pengider-ider merupakan salah satu bagian kecil dari penjabaran ajaran tantra dalam konsep Panunggalan jiwa manusia (Bhuwana Alit) dengan jiwa alam semesta (Bhuwana Agung),” ungkap pria yang juga seniman Tabuh dan Topeng Sidakarya ini.

Di sisi lain, paham Siwa Sidanta dalam agama Hindu di Bali tidak dapat dilepaskan dari konsep Tantrayana. Paham ini sangat erat kaitannya dengan penggunaan daging babi sebagai sarana upakara atau bantennya.

Misalnya seperti pada banten Gelar Sanga (sate babi), banten Bebangkit (guling babi), dan pada Gayah (sate renteng berbentuk senjata Dewata Nawa Sanga). Segala jenis Banten yang berbahan dasar daging babi ini semuanya ditujukan kepada Bhatari Durga

Kelengkapan baten caru, acapkali dilengkapi dengan jenis bali lain disebut dengan kawisan, yang dijadikan satu set tetandingan di atas alas daun pisang dipotong kecil. Salah satu olahan kuliner dalam upakara (bali atau wali) kawisan yang harus ada adalah lawar dengan berbagai jenisnya dan sate untuk bahan upakara serta komoh (kuah berisi potongan daging dan balung serta sedikit sayur).

Setelah usai pengolahan berbagai jenis lauk pauk atau makanan tersebut barulah dibuat tetandingan sesaji (upakara/banten/bali/wali) yang terbuat dari sate dan lawar serta jeroan disebut Kawisan dan Bakaran

Kawisan merupakan sebuah taledan berupa alas daun pisang berisi urab-uraban (lawar) dan sejumlah sate. Sarana ini dilengkapi dengan garam dan sambel. Sedangkan bakaran adalah taledan kecil yang diisi dengan potongan kecil daging berasal dari bagian jeroan (organ-organ dalam) hewan kurban, seperti hati, jantung, paru, usus, dan darah mentah

Persembahan sajen kawisan dan bakaran dilakukan bertujuan untuk mewujudkan keselarasan hidup manusia melalui pembinaan keharmonisasian hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Parhyangan), antara manusia dengan manusia atau sesama (Pawongan) dan hubungan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya (Palemahan).

“Dalam upacara yang lebih luas misalnya saat pembukaan lahan pekarangan baru atau ngeruak karang, baik untuk perumahan ataupun tempat suci (pura) maka kawisan dan bakaran ini sering dipergunakan sebagai kelengkapan dari Banten Caru” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#lawar #buddha #Tantrayana #hindu #bhairawa