Dijelaskan Jero Mangku Suarmi setelah persembahyangan selasai di depan Hio Lo, umat dapat melanjutkan persembahyangan di tiap-tiap palinggih yang ada. Khusus orang Cina atau Buddha melakukan pemujaan di depan palinggih atau Altar Dewa Kwan Kong.
Menurut kepercayaan golongan Buddha disanalah sthana Dewa Kwan Kong sebagai dewa perang yang harus dipuja dengan sejumlah sarana upacara seperti alas seagai tempat menaruh buah.
Ada berbagai macam buah yang bisa dipersembahkan kepada Tuhan atau dewa-dewi oleh umat Buddha, namun yang paling digunakan ialah buah jeruk dan apel ditambah berbagai macam kue, seperti kue beras, permen, dan teh yang kemudian ditambah dupa dan lilin yang berwarna merah.
Di Konco Pura Taman Gandasari ada perayaan Sejid Konco Pura Taman Gandasari jatuh pada Lak Gwee karena dipercaya merupakan hari lahir dari Yang Mulia Kwan Kong yang merupakan dewa utama di puja di Konco ini.
Sama seperti kelenteng penyelenggaranya, peserta juga harus so-pue pada dewanya masing-masing.
Dalam perayaan Sejid Konco, patung dewa yang hadir diusung di atas joli atau tandu selain dengan cara itu juga bisa dengan membawa kiem sien atau patung dengan di letakan di atas pelangkiran kecil dipegangi dan diikat Kain merah ke leher agar tidak jatuh saat mengikuti acara Kirap.
Setiap Kelenteng atau Konco mempunyai dewa utamanya masing-masing, beberapa Kelenteng atau Konco memiliki dewa yang sama.
Proses menentukan dewa di Konco Pura Taman Gandasari berkaitan dengan pendirian Konco Pura Taman Gandasari yang pada saat itu Jro Mangku Merta sebagai pendiri Konco bermimpi bertemu dengan Dewa Kwan Kong.
Perayaan Sejid dimulai dengan menjamu para tamu yang disimbolkan dengan patung dewa yang akan mengikuti kirab Sejid Konco.
Tahap selanjutnya perjamuan akan dimulai dengan penerimaan kiem sien atau patung dewa dari seluruh peserta secara bergantian.
Usai prosesi tersebut dilanjutkan dengan doa bersama di depan sejumlah patung dewa. Kemudian karpet merah dibuka dari depan pintu gerbang hingga ke ruang doa, tempat kiem sien disimpan.
Melalui karpet tersebut anak-anak, kaum muda, dan orang tua lantas secara bergilir memasuki areal konco untuk melangsungkan persembahyangan. Tabuhan tambur mulai dimainkan saat menjelang tengah hari.
Dalam kegiatan itu musik khas Cina dimainkan oleh para peserta kirab. Tambur ditabuh, simbal dimainkan bersahutan, dan dalam prosesi kirab ini masyarakat sekitar biasanya ikut berpartisipasi.
“Ratusan Orang berbagai Suku Ras dan Agama memenuhi Konco untuk memenjatkan doa memohon Keselamatan kepada para Dewa yang dipercaya bisa memberikan keselamatan,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika