Adalah Nyoman Ariyoga, 32 salah seorang penghobi Koi dari Banjar Kanginan Desa Bakbakan, Kecamatan/Kabupaten Gianyar. Pria yang juga dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini telah menekuni budidaya koi sejak tahun 2010. Kemudian lambat laun berubah menjadi bisnis yang meraup cuan hingga puluhan juta rupiah perbulan.
Dikatakan Ariyoga, saban tahun jumlah penghobi Ikan Koi semakin meningkat. Tak mengherankan jika penghobi mulai beralih menjadi berbudidaya. “Kemudian karena penghobi semakin berkembang, maka kita tawarkan untuk memelihara dengan gratis di awal tahun 2018 dan berkembang sampai sekarang,” kata pemilik Yorikufarm kepada Jembrana Express (Jawa Pos Group).
Peluang inipun menjadi ceruk ekonomi yang menjanjikan. Ariyoga kemudian membangun tempat pemijahan ikan koi hingga menjual ikan koi hasil pijahan sendiri untuk memenuhi kebutuhan pasar ikan koi di Bali hingga keluar Bali.
Selama ini, indukan yang dipijah sebagian besar berasal dari Jepang. Hal ini dilakukan untuk genetik ikan yang bagus sehingga keturunannya memiliki kualitas yang bagus. Selain itu, anakannya dikenal dengan Ikan Koi Lokal Bali, sedangkan induknya dari Jepang.
“Bukan berarti ikan koi lokal di Indonesia tidak bagus, tetapi secara genetika akan lebih bagus jika disilangkan dengan Koi import. Selama ini, di Yurikofarm mengusahakan yang terbaik untuk para penghobi ikan Koi di Bali,” paparnya.
Jenis ikan koi yang paling digemari oleh penghoby seperti jenis Gosanke (Kohaku, Showa, Sanke). Kemudian ada juga jenis Shiro. “favoritnya penghobi biasanya variety Kohaku dan Showa,” imbuhnya.
Proses perkawinan dapat dilakukan di tempat pemijahan. Perbandingannya, satu betina dengan dua atau tiga ekor pejantan. Proses kawin selama 7 jam. Dan menunggu waktu 100 jam untuk melihat keberhasilan telur ikan koi yang menetas. Kemudian pasca perkawinan membutuhkan waktu selama 12 bulan untuk bisa dipijah (ditetaskan) kembali.
Lalu, bagaimana ciri-ciri ikan koi yang dapat dipijah? betina (female) yang bisa dipijah, rata rata usia 3 tahun. Syaratnya, postur body besar (minimal size 70 cm ke atas), perutnya sudah besar, ovariumnya berwarna kemerahan dan bila dipegang perutnya sudah lembek.
Sedangkan Koi Jantan (male) rata rata di usia 2,5 tahun untuk dijadikan indukan, dengan mempertimbangkan skin dan body, serta birahi dari pejantan yang dapat diketahui melalui permukaan kedua sisi pipi saat dipegang terasa kasar dan bisa perutnya dipegang dan dipencet maka keluar sperma berwarna putih.
Dari hasil pemijahan satu indukan, rata-rata menghasilkan ikan koi yang berkualitas bagus paling banyak 50 ekor dari rata-rata ratusan ribu burayak yang menetas. Untuk indukan rata rata size 70 cm ke atas, dengan mempertimbangkan genetic dan kualitas secara menyeluruh indukan tersebut.
Koi yang berkualitas bagus bisa dilihat dari genetik dan overall beauty. Ciri-cirinya postur tubuh yang proporsional, bentuk kepala yang bulat, kualitas skin yang bagus, beni yang merah merona, shiroji yang putih bersih dan sumi yang pekat serta dalam penentuan pola atau patern disesuaikan dengan hobi masing-masing.
Lebih lanjut, pakan ikan koi sebenarnya bisa dipilih sesuai dengan kemampuan keuangan penghobi. Intinya, pakan tersebut memiliki jumlah protein di atas 37 persen dan mempertimbangkan nutrisi yang lainya disetiap kemasan pakan ikan koi.
Jenis pakan diantaranya Breeder Pro, Hiro dan CKK, Sugiyama dan Mizuho. Rata rata harga pakan mulai di kisaran Rp 35 ribu per kilo sampai 135 ribu per kilogram.
Disinggung terkait harga indukan Koi, Ariyoga menyebut rata-rata di kisaran harga Rp 15 juta keatas. Sedangkan rata-rata harga ikan koi dari Rp 500 ribu ke atas untuk usia 6 bulan dari pijah dengan size 20-25 cm.
“Omset bersih per bulan kami rata rata di kisaran Rp 10 juta. Pemasarannya biasanya Facebook @Yorikufarm dan IG @Yorikufarm. Ada via WA gorup pecinta koi. Bagi yang berminat bisa kontak di no WA 083119821929” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika