JEMBRANAEXPRESS.COM-Tidak semua legenda butuh panggung gemerlap, itulah yang dibuktikan Rezza Kancil bahwa kehebatan sejati bisa hadir dalam diam.
Rezza Kancil, pembalap motor asal Buleleng Bali Utara ini tak hanya dikenal karena kecepatannya di lintasan, tapi juga karena filosofi hidupnya yang sederhana namun dalam.
Di balik helm dan knalpot berisik, tersimpan kisah inspiratif tentang keberanian, tekad, dan kerendahan hati.
Lahir dengan nama lengkap Muhammad Rezza Yunus, sosok ini lebih akrab disapa “Kancil”—sebutan yang melekat karena gaya balapnya yang cepat, lincah, dan sulit ditebak.
Julukan itu bukan isapan jempol. Sejak usia dini, Rezza sudah menunjukkan ketertarikan luar biasa terhadap dunia otomotif. Bahkan sebelum duduk di bangku TK, ia sudah melaju dengan sepeda roda dua keliling kampung.
Inspirasi besarnya datang dari Mick Doohan, legenda balap asal Australia. Dari sanalah api semangat Rezza menyala.
Ia mulai ikut balapan liar sejak kelas lima SD, dengan motor Honda Supra sebagai kendaraan tempurnya. “Awalnya cuma buat senang-senang,” kenangnya, dengan nada santai penuh nostalgia.
Namun, keseriusan datang lebih cepat dari yang diduga. Tahun 2004 jadi tonggak penting dalam karier balap motor Rezza Kancil.
Ia meraih posisi keempat di Kejurda Djarum Denpasar, lalu mencetak kemenangan pertamanya di Sirkuit Dewi Sartika Singaraja.
Sejak itu, namanya mulai diperhitungkan di dunia balap motor Bali dan nasional.
Setahun kemudian, Yamaha—salah satu tim besar—melirik dan mengontraknya untuk tampil di kejuaraan nasional.
Namun, kesuksesan bukan tanpa rintangan. Di tahun 2006, Rezza mengalami kecelakaan berat di Sirkuit Kargo, Denpasar, yang membuatnya divonis gegar otak.
Ia memilih untuk berhenti sejenak dari dunia balap demi pemulihan.
Tak butuh waktu lama bagi Rezza untuk bangkit. Tahun 2007, ia kembali ke lintasan dan tampil gemilang di berbagai ajang, seperti Motoprix Region 3 di NTB dan NTT. Tapi di balik prestasi itu, Rezza tetap membumi.
Ia punya kebiasaan unik: tidak pernah menyimpan piala kemenangan. “Kalau ada yang minta, saya kasih. Buat apa disimpan? Saya nggak mau cepat puas,” ujarnya.
Inilah filosofi hidupnya—terus melaju, tanpa terjebak dalam euforia masa lalu.(*)
Editor : Suharnanto