DENPASAR, JEMBRANA EXPRESS - Wacana pariwisata kesehatan di Bali sedikit demi sedikit mulai diwujudkan. Yang terbaru, akan ada klinik terapi sel di kawasan ekonomi khusus (KEK) The Sanur, Denpasar, Bali.
Hal itu terungkap saat peresmian Bali Beach Convention Selasa (30/1/2024) lalu. Dalam kesempatan itu, Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan, seperti rencana awal, pada KEK The Sanur ini tidak hanya akomodasi pariwisata, tetapi ada fasilitas wisata kesehatan.
Dia mengatakan, kawasan The Sanur seluas 42 hektare akan ada rumah sakit bertaraf internasional, hotel, Bali Beach Covention, dan Etnomedicinal Botani Garden.
“Di sini seperti Nusa Dua tapi untuk hospital, karena data itu pariwisata kalah dengan negara tetangga dan masyarakat kita banyak berobat ke luar negeri,” kata dia.
The Sanur, International Medical and Wellness Destination direncanakan pada September 2024. Dia menyebut, total investasi mencapai Rp10,3 triliun yang bersumber dari investor swasta dan BUMN.
“Sampai saat ini total investor yang masuk 16 investor. Juga membuka lapangan kerja 43 ribu. UMKM juga kami rawat bagian keluarga besar kami,” katanya.
The Sanur merupakan branding ulang dari hotel legendaris Grand Inna Bali Hotel yang dibangun pada era Sukarno. Dengan demikian, hotel ini memiliki nilai historis yang luar biasa.
"Nilai historinya luar biasa dibangun Founding Father Soekarno. Main lobby hotel tersebut juga ada relief Bung Karno sedang menggendong anak kecil bersama masyarakat," ujarnya.
Salah satu investora yang sudah masuk adalah PT Asoka Bunga Khatulistiwa yang bekerja sama dengan Alster Lake Clinic (ALC) dari Jerman. RS internasional ini baru saja melakukan groundbreaking.
Di bawah bimbingan Prof. Dr. med. Fred Fändrich, FRCS, director of the Department of Applied Cellular Medicine di Universitas Schleswig – Holstein (UKSH), Kampus Kiel, Jerman, Alster Lake Clinic akan melayani terapi sel untuk pencegahan penyakit, reverse aging, dan terapi untuk penyakit kronis yang masih menemui hambatan lewat pengobatan medis konvensional.
Teknologi Prof. Fred Fändrich cukup unik dan satu-satunya. Dia menciptakan terapi sel menggunakan gabungan sel imun dan sel punca dari pasien sendiri dengan cairan infus organik.
Tujuannya untuk menetralkan keasaman tubuh akibat dari peradangan yang merupakan salah satu penyebab utama manusia menua dan bagaimana proses penuaan kemudian memunculkan penyakit-penyakit kronis.
ALC akan dibangun di Lot H3C seluas 5.600 m2 lengkap dengan seluruh fasilitas berstandar internasional meliputi area pelayanan terapi sel dan laboratorium berteknologi tinggi berbasis GMP yang berada di bawah arahan langsung oleh Prof. Fändrich.
PT Asoka Bunga Khatulistiwa menggelontor investasi sebesar Rp500 miliar untuk membuat klink ini. ***
Editor : Y. Raharyo