JEMBRANAEXPRESS - Cerita ini dialami oleh penulis sendiri bersama tiga rekan lainnya. Pengalaman ini sungguh pahit. Jauh-jauh dari Tabanan ke Karangasem, saat mancing malah diusir petugas.
Kejadiannya di tahun 2020 lalu atau saat pandemi Covid-19. Di hari Minggu bulan Agustus 2020, kami memutuskan memancing di Dermaga Tanah Ampo, Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.
Berangkat dari Tabanan, kami yakin akan mendapat ikan besar di lokasi tersebut. Karena dua hari sebelumnya, teman kami pamer ikan tangkapannya di lokasi yang sama. Tak ada rasa khawatir meski perjalanan jauh. Justru kami sangat bersemangat dan tertantang karena memancing di spot yang informasinya sangat ideal.
Hanya saja, kami berangkat minim informasi yakni apakah dizinkan atau tidak memancing di Dermaga Tanah Ampo tersebut. Pasalnya, diingatan kami, kegiatan memancing di lokasi tersebut sudah dilarang karena adanya proyek pembangunan.
Tapi, nyatanya rekan kami malah mendapat ikan besar disana. Sehingga kami berempat pun sepakat dan kompak. "Dia saja bisa mancing, kenapa harus takut. Tinggal kita gas,".
Menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, akhirnya kami tiba di spot. Kami memilih melipir di timur bangunan utama, dan masuk ke lintasan dermaga melalui jalan setapak di sebelah timur.
Kami berjalan ke tengah laut kurang lebih 150 meter hingga ujung dermaga. Tanpa pikir panjang, kami berempat melempar umpan.
Tak sampaj 1 jam, umpan saya lah yang pertama kali disambar ikan. Joran melengkung tajam dan tanpa diduga, cumi berukuran besar berhasil saya angkat.
Selang beberapa saat, rekan saya kemudian tertawa kegirangan karena umpannya disambar ikan besar. Di sinilah kesialan itu terjadi.
Saat rekan saya bertarung dengan ikan, kami berempat heboh karena kami yakin ikan yang diangkat akan besar. Kami teriak seperti anak kecil yang mendapat hadiah ulang tahun. Senter kami goyangkan kesana kemari. Suasana malam itu pecah dengan kegirangan kami karena rasa penasaran.
Di tengah ikan sedang dihajar, tiba-tiba dari belakang muncul tiga orang menghampiri kami dengan sepeda motor. Satu di antaranya adalah petugas pengamanan (Satpam) di lokasi, dan dua diantaranya adalah kemungkinan warga lokal. Dengan nada tegas, petugas itupun menghampiri kami.
"Mohon maaf, tidak boleh mancing disini. Saya tidak mau dengar alasan apapun. Saya mohon segera kemasi barang-barang anda," ujar petugas tersebut.
Kami mencoba berdiskusi dengan petugas itu. Bahkan kami meminta diberikan belas kasihan, karena kami berasal dari jauh (Tabanan) dan baru saja tiba. Sekali lagi, petugas itu bersikukuh bahwa kegiatan memancing tidak diperbolehkan.
"Intinya tidak boleh, saya tidak mau berdebat. Silahkan angkat dulu ikannya, setelah itu kalian pergi," tegasnya kembali.
Tak ingin pergi begitu saja, saya mencoba berargumen. Bahkan saya mencatut nama teman saya dimana dua hari sebelumnya dia mancing di lokasi. "Mungkin teman anda sedang mujur karena saat itu dia tidak ketahuan," selorohnya.
Saya mencoba mencairkan suasana dan menanyakan alasan mengapa memancing tidak diperbolehkan lagi. Katanya, saat itu sedang ada proyek pembangunan dermaga. Pihaknya khawatir jikalau terjadi kecelakan orang di luar petugas proyek, siapa yang nantinya akan bertanggung jawab.
"Untuk meminimalisir kejadian, makanya kami suruh kalian berempat untuk pergi. Kalau salah satu dari anda kecelakan disini, siapa yang nanti bertanggung jawab," sahutnya.
Kamipun dibuat lemas oleh kejadian tersebut. Rasa girang sebelumnya tiba-tiba berubah menjadi bad mood. Dengan wajah kecut, kamipun akhirnya memutuskan kembali pulang ke Tabanan dengan langkah gontai diiringi petugas itu dari belakang dengan sepeda motornya. Cumi besar dan ikan kakap seukuran 10 jari yang kami dapat seakan percuma. ***
Editor : Y. Raharyo