JEMBRANAEXPRESS.COM – Tajen atau dikenal Tabuh Rah merupakan bagian tak terpisahkan dari upacara adat dan keagamaan umat Hindu di Bali.
Lebih dari sekadar pertarungan ayam, Tajen memiliki akar sejarah dan spiritualitas dalam kebudayaan Bali.
Tradisi ini dipercaya telah berkembang sejak masa migrasi masyarakat Majapahit ke Bali pada sekitar abad ke-13 Masehi.
Dalam konteks keagamaan, Tabuh Rah bukanlah pertarungan biasa, melainkan persembahan suci kepada kekuatan alam semesta yang dikenal dengan sebutan Bhuta Kala.
Menurut Jro Mangku I Wayan Satra, tokoh spiritual dan ahli lontar di Bali, ritual ini memiliki dasar sastra agama yang kuat.
Di antaranya tertuang dalam Lontar Ciwa Tatwa Purana dan Yadnya Prakerti, yang menjelaskan pentingnya pengorbanan ayam sebagai bagian dari Yadnya atau upacara suci.
“Tabuh Rah dilakukan saat bulan Kasanga, sebagai wujud pemujaan kepada kekuatan Bhuta Bhucari, Kala Bhucari, dan Durga Bhucari. Ini adalah bentuk komunikasi spiritual dengan alam,” jelas Mangku Satra.
Dalam pelaksanaannya, satu ayam akan mengucurkan darahnya ke tanah sebagai simbol persembahan.
Meskipun pengorbanan darah dianggap bertentangan dengan ajaran Ahimsa atau anti-kekerasan dalam Hindu, dalam konteks Tabuh Rah, tindakan ini masuk dalam ranah Dharma, yakni pengorbanan suci demi keseimbangan semesta.
Selain adu ayam, ritual Tabuh Rah juga dilengkapi dengan rangkaian sesajen dan mantra untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan, baik bagi umat maupun bagi roh binatang yang dikorbankan, agar dapat bereinkarnasi ke alam yang lebih baik.
Mangku Satra juga menegaskan pentingnya membedakan antara Tajen sakral dan tajen judi. Dalam upacara keagamaan, Tajen hanya berlangsung dalam tiga babak, tanpa unsur taruhan, dan sepenuhnya didedikasikan sebagai persembahan spiritual.
“Banyak yang salah kaprah. Tajen dalam konteks Tabuh Rah bukan ajang judi, tetapi sarana ritual yang sarat makna magis dan spiritual,” tegasnya.
Makna simbolik dari angka tiga dalam Tajen pun dianggap sebagai representasi dari awal, tengah, dan akhir – suatu siklus hidup yang terus berulang dalam kepercayaan Hindu Bali.
Dengan memahami sejarah dan makna tajen dalam tradisi Hindu Bali, masyarakat diharapkan tidak lagi melihatnya semata-mata sebagai hiburan atau praktik kekerasan, melainkan sebagai warisan budaya spiritual yang penuh nilai filosofi dan penghormatan terhadap alam semesta.(*)
Editor : Suharnanto