JembranaExpress.Com - Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, satu hal menjadi semakin jelas: masa depan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Di Kabupaten Jembrana, langkah menuju masa depan itu kini sedang dipercepat.
Melalui sosialisasi dua program strategis, “1 Keluarga 1 Sarjana” dan “Bali Go Global”, I Made Kembang Hartawan menegaskan arah baru pembangunan daerah mencetak generasi yang tidak hanya siap bersaing, tetapi juga mampu menembus batas global.
Baca Juga: Warga Sigap! Kebakaran Gudang di Jembrana Berhasil Dipadamkan Tanpa Korban, Kerugian Capai Rp5 Juta
Bagi banyak keluarga prasejahtera, kuliah sering kali terasa seperti mimpi yang terlalu jauh. Biaya pendaftaran, uang kuliah, hingga kebutuhan hidup menjadi tembok besar yang sulit ditembus. Namun kini, tembok itu mulai runtuh.
Program “1 Keluarga 1 Sarjana” yang digagas Pemerintah Provinsi Bali hadir bukan sekadar bantuan, melainkan solusi menyeluruh. Beasiswa yang diberikan mencakup hampir seluruh kebutuhan mahasiswa mulai dari biaya pendaftaran, SPP atau UKT hingga delapan semester, hingga uang pangkal yang ditanggung kampus mitra.
Tak berhenti di sana, mahasiswa juga mendapatkan subsidi biaya hidup setiap bulan. Di wilayah Denpasar dan Badung, bantuan mencapai Rp1,4 juta, sementara di Buleleng dan Karangasem sebesar Rp1,2 juta. Bahkan untuk mahasiswa Universitas Terbuka, tetap disediakan dukungan Rp750 ribu per bulan.
Program ini tidak diberikan secara sembarangan. Seleksi dilakukan ketat dan tepat sasaran, melibatkan rekomendasi desa adat serta indikator ekonomi seperti daya listrik rumah tangga. Dengan melibatkan 28 perguruan tinggi di Bali, program ini menargetkan 1.450 mahasiswa dapat merasakan manfaatnya.
Namun bagi Jembrana, pendidikan tidak berhenti di gelar sarjana.
Melalui program “Bali Go Global”, cakrawala diperluas. Generasi muda didorong untuk menguasai keterampilan vokasi, mendapatkan sertifikasi, hingga membuka peluang kerja di luar negeri. Dunia kerja internasional bukan lagi sesuatu yang jauh, melainkan peluang nyata yang bisa diraih.
Bupati Kembang menegaskan, pendidikan adalah kunci untuk mengubah nasib.
“Hari ini kita bicara soal masa depan. Bukan hanya masa depan anak-anak kita, tetapi masa depan keluarga kita semua,” ujarnya.
Di tengah persaingan global, pendidikan menjadi pembeda yang nyata. Meski kesuksesan bisa datang dari berbagai jalan, peluang akan jauh lebih terbuka bagi mereka yang memiliki bekal ilmu dan keterampilan.
Lebih dari sekadar program, inisiatif ini adalah strategi pengentasan kemiskinan berbasis pendidikan. Satu sarjana dalam keluarga diyakini mampu mengubah pola pikir, membuka peluang ekonomi, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
“Kalau dulu orang tua kita berjuang dengan tenaga, sekarang anak-anak kita harus berjuang dengan ilmu,” tegasnya.
Baca Juga: De Gadjah Soroti Darurat Sampah Bali, Tegaskan Tanggung Jawab Ada di Daerah
Peran orang tua pun menjadi kunci. Dorongan, motivasi, dan keberanian untuk bermimpi besar menjadi fondasi penting agar anak-anak tidak berhenti di jenjang pendidikan menengah.
Kini, jalan telah dibuka. Infrastruktur telah disiapkan. Tinggal bagaimana masyarakat memanfaatkan peluang tersebut.
Di Jembrana, mimpi tidak lagi dibatasi oleh keadaan. Dari desa-desa kecil, harapan itu tumbuh bahwa suatu hari, anak-anak mereka tidak hanya menjadi sarjana, tetapi juga warga dunia.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa