JembranaExpress.Com - Bagi masyarakat Bali, perjalanan tangkil ke pura besar bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan batin penuh niat, doa, dan pengabdian. Namun, bagi krama di Jembrana, jarak yang jauh menuju pura-pura utama seperti Pura Agung Besakih dan Pura Ulun Danu Batur kerap menjadi tantangan tersendiri.
Biaya transportasi yang tidak sedikit, kelelahan perjalanan, hingga faktor keselamatan di jalan, sering kali menjadi pertimbangan sebelum berangkat tangkil.
Baca Juga: Bupati Jembrana Temui Gubernur Bali, Ajukan Bantuan Perbaikan Pura Bersejarah
Di tengah kondisi itu, I Made Kembang Hartawan memilih mengambil langkah berbeda memulai dari dirinya sendiri.
Secara pribadi, ia menyediakan dua unit bus gratis untuk memfasilitasi pemedek asal Jembrana yang hendak mengikuti rangkaian upacara Ida Bhatara Turun Kabeh dan Ngusaba Kedasa tahun 2026.
Kloter pertama diberangkatkan pada Sabtu (18/4) lalu, disusul keberangkatan bus kedua pada hari berikutnya. Bagi para pemedek, ini bukan sekadar fasilitas transportasi tetapi bentuk perhatian yang nyata.
“Ini saya mulai dari niat pribadi sebagai bentuk bakti kepada umat,” ujar Bupati Kembang.
Namun di balik langkah sederhana ini, tersimpan pola kepemimpinan yang konsisten. Bupati Kembang dikenal kerap merintis program dari inisiatif pribadi, sebelum kemudian berkembang menjadi kebijakan resmi daerah.
Sebut saja program Rumah Singgah Harmoni di Denpasar, yang awalnya menggunakan rumah pribadi untuk membantu warga Jembrana yang berobat. Atau layanan pick-up gratis dan mobil antar-jemput pasien yang kini telah menjadi program unggulan daerah.
Baca Juga: Makna Bhakti Penganyar di Besakih: Bupati Jembrana Tekankan Keseimbangan Spiritual dan Pembangunan
Pola yang sama kembali diterapkan. Bus gratis ini bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan “pilot project” yang sedang diuji.
“Kita siapkan dua unit bus dulu, kita lihat manfaat dan respon masyarakat. Kalau bagus, ke depan akan kita jadikan program resmi,” jelasnya.
Pendekatan ini memberi ruang untuk memastikan bahwa setiap program benar-benar tepat guna sebelum dibiayai oleh anggaran daerah.
Lebih dari itu, keberadaan bus gratis ini juga membawa dampak nyata. Selain meringankan beban biaya, koordinasi perjalanan yang terpusat membantu meningkatkan keselamatan dan mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan pura.
Bagi para pemedek, perjalanan pun menjadi lebih nyaman berangkat bersama, saling menjaga, dan tiba dengan kondisi yang lebih prima untuk bersembahyang.
Baca Juga: Rp1,7 Miliar Digelontorkan, Tiga Akses Jalan di Candikusuma Jembrana Jadi Urat Nadi Ekonomi
“Agar semeton Jembrana bisa tangkil dengan nyaman. Saya ingin memastikan niat tulus masyarakat tidak terhambat oleh biaya atau kendala perjalanan,” tegasnya.
Di Jembrana, pelayanan publik tampaknya tidak selalu dimulai dari meja birokrasi. Kadang, ia berangkat dari niat sederhana yang kemudian tumbuh menjadi gerakan besar.
Dan dari dua unit bus yang melaju menuju Besakih dan Batur, tersimpan harapan: bahwa pelayanan yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk menjadi lebih luas dan berdampak.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa