Dewa Komang Yudi Astara memang baru pertama kali bertarung dalam perhelatan Pemilihan legislatif. Sebelumnya, ia sudah dua kali terpilih sebagai Perbekel Desa Tembok. Rupanya, Caleg PDIP nomor 4 yang berstatus new comer sukses meraup suara tertinggi di Dapil Tejakula dengan raihan suaranya sudah tembus 5.129 suara. Ia pun dipastikan lolos sebagai anggota DPRD Kabupaten Buleleng.
Dewa Yudi tak menampik selama kampanye tidak memasang baliho sebagai tanda pencalegan. Menurutnya, ada sejumlah pertimbangan khusus mengapa dirinya ogah memasang Baliho.
Alasan pertama, dirinya mengakui memiliki keterbatasan modal finansial untuk maju bertarung di Pileg 2024 ini. Menurutnya, tidak bisa dibantah jika cost politik yang cukup tinggi jika ingin nyaleg.
Menurutnya, Baliho memang menjadi media sosialisasi untuk memperkenalkan caleg yang mengikuti kontestasi dari jenjang kabupaten, provinsi hingga DPR RI. Tetapi, baliho punya kelemahan, karena tidak relevan dengan surat suara.
“Yang ada di surat suara adalah nama partai, nomor urut dan nama calon. Baliho punya keterbatasan, karena tidak bisa diajak berkomuniaksi, berdialog. Sedangkan kita pribadi sebagai caleg kan bisa berkominikasi baik langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat,” katanya.
Baliho menurutnya tidak bisa mengubah pilihan masyarakat. Sebab, bukan karena besarnya ukuran baliho yang membuat seseorang mengubah pilihan. Melainkan karena pertimbangan rekam jejak caleg.
“Biayanya juga tinggi, belum lagi spanduknya, rangka, tim yang memasang. Dulu, saat saya nyalon menjadi perbekel juga tidak pernah memasang baliho, kalaupun ada, itu memang tim dan relawan yang memasang. Baliho juga menjadi sampah visual, sehingga saya lebih memilih untuk datang langsung ke basis pemilih memperkenalkan diri dan visi misi,” paparnya.
Disinggung terkait gaya kampanye, ia mengklaim lebih menguatkan basis di Desa Tembok tanah kelahirannya. Dirinya tak menampik jika selama ini sudah memiiki investasi sosial baik sejak sang ayah dan ibu yang keduanya juga pernah menjadi perbekel di Desa Tembok.
Tak dipungkiri, rekam jejak saat dirinya menjabat sebagai perbekel dua periode juga menjadi investasi sosial yang mengatrol perolehan suaranya, di tengah persaingannya dengan politisi Partai Golkar, Gerindra yang juga berasal dari Tembok.
Selain memperkuat di basis desa Tembok, ia juga berkampanye di wilayah Tejakula. Bahkan, proses kampanye ke desa-desa melalui jejaring pertemanan. Selain itu Dewa Yudi juga aktif di media sosial. Sehingga saat berkampanye banyak yang sudah mengenal rekam jejak
“Saya ingin menampilkan citra yang berbeda. Saat turun kampanye, jarang bersama tim, cukup sendiri bawa motor. Makanya banyak yang meragukan, apakah benar saya nyaleg? Karena turun sendiri,” kenangnya.
Hal yang membuat dirinya bahagia adalah modal kampanye yang sepenuhnya dibiayai oleh relawan, keluarga dan warga. Ada yang nyumbang berupa uang, barang, makanan, sumbangan armada (kendaraan). Ia mengklaim tidak ada satu rupiah pun uang yang keluar.
“Di Desa Tembok perolehan suara saya tertinggi hampir 4 ribuan. Kalau di luar desa sekitar 1200 an. Dari 21 TPS, saya unggul di 20 TPS. Sedangkan satu TPS itupun tidak unggul, hanya selisih 4 suara dengan caleg Gerindra yang juga berasal dari Tembok,” akunya.
Pasca dilantik, apa yang ingin diperjuangkan? Dewa Yudi akan lebih mengawasi pelayanan umum yang berdampak kepada masyarakat. Seperti masalah kesehatan, pendidikan, pelayanan publik, sektor riil seperti UMKM, pariwisata, kepemudaan sesuai basis potensi masing-masing desa
Pihaknya akan mendorong sebuah kebijakan yang akomodatif terhadap kepentingan masyarakat. Misal, Buleleng sudah punya Perda terkait penyandang Disabilitas, amanat dari undang-undang, PP sampai Perda, satu kecamatan minimal ada satu sekolah inklusi untuk SD dan SMP.
“Bagi orang dengan keterbatasan fisik, yang difabel kemana mereka sekolah? Sampai sekarang Perda itu belum terimplementasi. Artinya hak kaum marginal yang sudah ada payung hukumnya, ini juga mestui diperhatikan dengan baik. Jangan sampai ada perda, tetapi implementasinya jauh panggang dari api,” katanya.
Dewa Yudi mengaku memiliki passion untuk duduk di Komisi III yang membidangi sektor pertanian, periknana, peternakan, sektor riil, UMKM, perumahan, PU. Meski demikian, ia juga tertarik untuk duduk di Komisi IV yang membidangi Pendidikan, Kesehatan, kesra, pemuda olah raga, adat budaya.
Dirinya juga ingin mendorong rumah bertumbuh seperti yang sudah diimplementasikan di Desa Tembok saat menjadi perbekel. “Tentu salah satu yang muncul adalah bagimana lahirnya Perda Pembangunan kepemudaan. Tanpa dasar hukum yang jelas, akan sulit untuk mengalokasikan anggaran. Bagaimana memaksimalkan potensi pemuda agar bisa menyambut bonus demografi. Agar daya saing dan kapasitas yang dihasilkan bisa sesuai dengan kebutuhan pasar,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika