Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Maestro Karawitan Jadi Korban Tragedi 1965, Desa Kedis Buleleng Terus Meregenerasi Gong Kebyar Anak

Dian Suryantini • Minggu, 4 Februari 2024 | 17:36 WIB
Gong Kebyar Anak di Desa Kedis, Busungbiu, Buleleng sedang berlatih.
Gong Kebyar Anak di Desa Kedis, Busungbiu, Buleleng sedang berlatih.

SINGARAJA, JEMBRANA EXPRESS – Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Bali pernah punya maestro karawitan yang sangat disegani. Dia menciptakan banyak tarian di era Bung Karno masih jadi presiden Indonesia.

Adalah I Ketut Merdana, sang maestro karawitan dari Desa Kedis itu. Dia menciptakan banyak tarian yang kontekstual dengan kehidupan masyarakat.

Beberapa karyanya adalah Tari Nelayan, Tari Buruh, Tari Tani, Tari Pancasila, hingga Tari Wiranjaya yang amat terkenal, dan lainnya.

Namun, I Ketut Merdana menjadi korban politik Tragedi 1965. Karya-karyanya selaras dengan seni untuk rakyat itu pun sempat tenggelam seiring naiknya Orde Baru dalam panggung politik nasional.

Walau begitu, Desa Kedis masih menyimpan potensi generasi muda yang mau melestarikan kesenian para pendahulunya. Salah satunya melalui Sanggar Tari Jaya Paksi.  

 

Saat Jembrana Express mendatangi wantilan Pura Dalem desa itu, lamat-lamat terdengar alunan gamelan. Iramanya halus dan tertata.

Ternyata suara itu dimainkan oleh Sekaa Gong Anak-anak dari Sanggar Tari Jaya Paksi yang sedang mengiringi Tari Nelayan, karya I Ketut Merdana.

Anggota sekaa yang terdiri dari siswa SD-SMP ini terlihat cekatan memegang panggul. Tangan kirinya juga senada. Wajah mereka menunjukkan keseriusan.

“Mau ke Korea,” ujar Putu Ayu Karina Putri Aulia.

Siswi kelas 2 di SMPN 1 Busungbiu ini begitu bersemangat.

“Iya, biar bisa tampil di PKB,” ujar Putu Janesya Graniasih menimpali Ayu.

Gadis kecil ini sangat ingin tampil pada Pesta Kesenian Bali. Maka ia pun menunjukkan kebolehannya dalam berkesenian.

Langit pada waktu itu dalam kondisi mendung. Gerimis membasahi bumi di daerah dataran tinggi ini.

Janesya dan kawan-kawannya dengan semangat tinggi melakukan latihan seni tabuh gong kebyar. Dalam usianya yang masih belia, mereka berlatih keras menguasai notasi, ritme, dan lagu-lagu tradisional, seperti Tari Nelayan, Tari Rejang Renteng, dan Tari Baris.

Janesya, seorang pelajar kelas 3 SD, merupakan cucu dari seniman karawitan terkenal, I Gede Artaya. Dan Artaya adalah keponakan I Ketut Merdana, sang maestro karawitan. Maka, Janesya adalah cucu sang maesto. Darah seni mengalir bak buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Bakat Janesya dalam seni karawitan telah terlihat sejak masa taman kanak-kanak. Meskipun usianya masih belia, keahliannya dalam memainkan alat musik karawitan sudah cukup mengagumkan.

“Belajarnya sudah 2 tahun,” kata Janesya malu-malu.

Ia juga tidak memberikan alasan pasti terkait pilihannya menekuni seni gamelan daripada seni tari. “Lebih suka megong,” jawabnya.

Sekaa gong anak-anak ini latihan dua kali dalam seminggu. Mereka mengikuti latihan dengan disiplin. Tidak pernah bolos.

I Gede Artaya, lelaki paruh baya dengan kacamata, itu menjadi pembimbing yang denagn dan sabar dan tekun melatih para bocah ini.

Belajar seni tabuh karawitan memang tidaklah mudah. Tapi, Ayu dan Janesya dan kawan-kawannya tetap bersemangat berlatih. Mereka berhasil pentas pada sebuah acara saat Hari Raya Galungan.

Baca Juga: Ngaturang Buah di Sidatapa Wujud Syukur untuk Dewa Ayu Mas Mangraronce

“Dulu sudah pernah pentas sekali. Sekarang belajar lagi biar bisa pentas lagi. Siapa tahu bisa ke luar negeri,” kata Ayu yang duduk di posisi reyong. Reyong adalah alat musik berupa kumpulan gong kecil yang dibunyikan dengan cara dipukul pakai alat berbentuk stik.

Seni Karawitan di Desa Kedis memang terus diregenerasi. I Gede Artaya membentuk beberapa kelompok, seperti kelompok A, B, dan C. 

“Kendalanya hanya satu. Ketika sudah sekolah dan kuliah, latihannya pasti tersendat, karena mereka sibuk belajar. Tapi ketika mereka pulang kampung, mereka masih bisa diajak bergabung. Misalnya ketika ada odalan atau acara tertentu,” jelasnya.

Di tengah gemerlap modernisasi, Desa Kedis ingin tetap menjad pewaris budaya dan seni karawitan yang tangguh. Dari Ketut Merdana, menurun ke I Gede Artaya, dan kini ke anak-cucu mereka.

“Saya keponakan dari almarhum bapak Ketut Merdana. Dan hanya anak-anak ini yang sekarang saya punya sebagai jembatan penerus kesenian di desa kami,” jelasArtaya. ***

Editor : Y. Raharyo
#I Ketut Merdana #buleleng #karawitan #bali #gong kebyar #desa kedis busungbiu